loading…

Tuhan tidak meminta dari makhluk yang diciptakanNya melakukan apa yang ia tidak dapat lakukan. Ilustrasi: Ist

Berikut ini adalah dialog Prof Dr Wilson H. Guertin dan Imam Muhammad Jawad Chirri yang dikutip dari buku yang diterjemahkan HM Ridho Umar Baridwan, SH berjudul “Dialog tentang Islam dan Kristen” (Alma’arif, 1981).

Imam Mohammad Jawad Chirri adalah seorang ulama dan dosen , kelahiran Lebanon . Beliau direktur dan Ketua Kerohanian di pusat Islam di Detroit, Amerika Serikat . Sedangkan Prof Dr Wilson H. Guertin adalah Ilmuwan terkemuka dalam ilmu jiwa (psychology).

Berikut petikan dialog tersebut:

Prof Wilson: Maukah anda menyebutkan beberapa doktrin (azas-azas) ini yang berasal dari keadilan Tuhan?

Imam Chirri: Saya akan menyebutkan tiga dari prinsip-prinsip ini yang berasal dari azas keadilan Tuhan:

1. Tuhan tidak meminta dari makhluk yang diciptakanNya melakukan apa yang ia tidak dapat lakukan.

Dari Kitab Suci Qur’an :

“Tuhan tidak memikulkan kewajiban kepada seseorang, hanyalah sekadar kekuatannya.”

Apa yang di luar kesanggupan anda adalah tidak mungkin untuk anda lakukan. Tuhan tidak meminta yang tidak mungkin.

2. Tuhan tidak membebankan individu tanggungjawab, kecuali tentang apa yang ia lakukan sendiri yang di bawah kontrolnya. Tidak seorangpun yang bertanggungjawab apa yang dilakukan orang lain, walaupun mereka itu temannya sendiri atau saudaranya, selama perbuatan mereka tidak di bawah kontrol mereka. Kitab Suci Qur’an:

“Apakah hendak kaucari Tuhan selain Allah? Dialah pemimpin segala sesuatu. Dan bahwa tiap-tiap diri yang mengusahakan (kejahatan) maka kejahatan itu untuk (kerugian) dirinya sendiri, dan tiadalah pemikul beban akan memikul beban orang lain, sesudah itu tempat kembali kamu kepada Tuhan, lalu diterangkan oleh Tuhan kepada kamu apa yang menjadi perselisihan di antara kamu.” QS 6 :164

3. Bila ini benar, maka mahkluk hidup tidak dapat dibebani dosa yang diperbuat Adam & Eve. Jika dikatakan bahwa seluruh makhluk hidup dibebani dosa turun-temurun yang berasal dari Adam dan Hawa, tentulah beribu-ribu generasi-generasi makhluk yang berasal dari Adam dan Hawa akan bertanggungjawab dari dosa mereka, dan bahwa mereka dihukum oleh Tuhan untuk dosa-dosa itu yang terjadi sebelum lahirnya generasi-generasi itu. Ini tentu tidak sesuai dengan keadilan Tuhan.

Hakim tidak akan menghukum seorang anak yang disebabkan dosa orang tuanya padahal anak itu tidak tahu menahu. Bagaimana kita dapat memikirkan bahwa Tuhan menjatuhkan hukuman-hukuman pada anak-anak dari dosa-dosa yang diperbuat orang tuanya? Untuk ini, Islam dengan tegas menolak azas-azas Dosa-dosa Asal, dan menganggap setiap manusia murni disaat dia dilahirkan dan bebas dari setiap dosa.

Sebenarnya Islam menganjurkan anak bayi sebagai satu contoh yang sempurna dari kemurnian dan tanpa dosa. Setiap manusia sesuai ajaran Islam, dilahirkan dalam keadaan murni dan bebas dari setiap dosa dan selanjutnya murni sampai dia berbuat dosa pada umur dewasa. Oleh dosa-dosa pada umur dewasa, anda kehilangan kemurnian anda, tetapi anda dapat mencapai kemurnian itu lagi melalui tobat yang tulus ikhlas.

Bila anda benar-benar mengubah sikap anda dan berniat benar-benar patuh pada Tuhan Yang Pengasih, Dia akan menerima anda dan menghapus dosa anda.

(mhy)



Sumber Artikel KLIK DISINI