[ad_1]

loading…

Jumhur ulama menyatakan bahwa Iblis termasuk golongan dari Malaikat. Nama aslinya adalah Azazil. Foto ilustrasi/ist

Jumhur ulama mengatakan bahwa asal usul Iblis berasal dari golongan Malaikat, bukan bangsa Jin. Pendapat ini dinyatakan oleh ulama tafsir termasuk di dalamnya para sahabat Nabi seperti Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud.

Kemudian diikuti para ulama setelahnya seperti imam Sa’id bin Musayib, Sa’id bin Jubeir, Ibnu Juraij, Qotadah, Abu Al-Hasan dan lainnya. [Tafsir al-Qurthubi (1/294)]

Ustaz Ahmad Syahrin Thoriq menukil keterangan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

‌ إن إبليس كان من أشراف الملائكة وأكرمهم قبيلة …كان ‌اسمه قبل أن يركب المعصية ‌عزازيل

Artinya: “Sesungguhnya Iblis adalah termasuk golongan Malaikat yang punya kedudukan dan kelompok Malaikat yang paling mulia…. Nama aslinya adalah ‘Azazil.” [Tafsir ath Thabari (1/504)]

Berkata Sa’id bin Musayyib rahimahullah:

كان ‌إبليس ‌رئيسَ ‌ملائكة ‌سماء ‌الدنيا

Artinya: ” Iblis adalah kepalanya Malaikat yang ada di langit dunia.” [Tafsir Ibnu Katsir (1/139)]

Dalilnya
Di antara dalil yang menegaskan bahwa Iblis adalah dari bangsa Malaikat adalah:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ

Artinya: “Ingatlah ketika kami berkata kepada para Malaikat: Sujudlah kalian kepada Adam, maka mereka pun sujud kecuali Iblis.” (QS. Al Baqarah ayat 34)

Ibnu Abbas ketika menjelaskan ayat di atas berkata:

كان ‌إبليس من الملائكة بدليل أنه استثناه

“Iblis adalah bagian dari Malaikat, dalilnya adalah ia dikecualikan (diistisna’kan) dalam ayat di atas.” [Tafsir al Khazin (1/132)]

Ibnu Athiyah rahimahullah berkata:

ولا خلاف أن إبليس كان من الملائكة في المعنى

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa Iblis adalah dari golongan malaikat sesuai makna (ayat di atas)..” [Fath ar Rahman fi Tafsir al Qur’an (4/185)]

Dalam lafaz “Ingatlah ketika Aku berkata kepada para Malaikat…” Maka jelas ini menunjukkan bahwa Allah sedang berbicara dengan Malaikat dan mengarahkan ucapan kepada Malaikat, bukan selain malaikat. Setelah itu Allah memberikan pengecualian: “Kecuali Iblis.”

Maknanya di antara para Malaikat itu, semuanya patuh terhadap perintah dengan sujud kecuali satu malaikat yang bernama Iblis. Lafaz kecuali dalam bahasa Arab disebut dengan istilah istitsna’. Dan segala sesuatu yang dikecualikan (mustatsna) haruslah sejenis dengan induk pengecualiannya.

Misalnya kalimat: “Semua orang hadir kecuali Ahmad.” Maka di sini semua orang paham bahwa Ahmad adalah termasuk dari orang yang tercakup dalam kalimat tersebut. Kalimat akan aneh jika bentuknya misalnya: “Semua orang hadir kecuali kambing.” Wallahu A’lam.

(rhs)

[ad_2]

Sumber Artikel KLIK DISINI