loading…

Kitab Suci al-Quran telah juga menjelaskan kebebasan manusia dengan menekankan pertanggungan jawab dari setiap individu untuk setiap apa yang ia lakukan. Ilustrasi: SINDOnews

Berikut ini adalah dialog Prof Dr Wilson H. Guertin dan Imam Muhammad Jawad Chirri yang dikutip dari buku yang diterjemahkan HM Ridho Umar Baridwan, SH berjudul “Dialog tentang Islam dan Kristen” (Alma’arif, 1981).

Imam Mohammad Jawad Chirri adalah seorang ulama dan dosen , kelahiran Lebanon . Beliau direktur dan Ketua Kerohanian di pusat Islam di Detroit, Amerika Serikat . Sedangkan Prof Dr Wilson H. Guertin adalah Ilmuwan terkemuka dalam ilmu jiwa (psychology).

Berikut petikan dialog tersebut:

Prof Wilson: Islam menganjurkan dengan tegas azas keadilan Tuhan. Islam, karena itu diharapkan menganjurkan kebebasan manusia dan menentang pengertian takdir atau apa yang dikatakan di dalam filsafah “Determinism” (ketentuan).

Saya ingin mengetahui bagaimana kitab suci Qur’an menunjukkan secara jelas mengenai kebebasan manusia.

Imam Chirri: Kitab Suci Qur’an telah menerangkan berulang kali bahwa manusia adalah makhluk yang bebas. Dan menyatakan bahwa manusia sanggup mengubah keadaannya.

Sesungguhnya Tuhan tiada mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” QS 13 :11.

Bila manusia ditakdirkan untuk mengambil tujuan tertentu, dia tidak akan dapat mengubah tujuan itu. Adapun juga yang ia lakukan atau tidak lakukan, bukan oleh pilihannya, tetapi oleh keharusan.

Kitab Suci al-Qur’an juga menyatakan bahwa Tuhan tidak meminta individu melakukan hal yang tidak mungkin, Dia juga tidak membuat sukar pesuruh-pesuruhNya.

Tuhan tidak memikulkan kewajiban kepada seseorang, hanyalah sekadar kekuatannya.” QS 2 : 286.

Tuhan tidak hendak menyusahkan kamu, tetapi hendak menyucikan dan mencukupkan karuniaNya kepada kamu, supaya kamu bersyukur.” QS 5 :6.

Bila manusia ditakdirkan untuk menjadi orang yang tidak sembahyang atau melakukan pembunuhan dan Tuhan mengatakan padanya jangan membunuh atau memerintahkannya untuk sembahyang, Dia akan memberikan kesengsaraan terbesar padanya, dan Dia akan meminta darinya untuk melakukan apa yang tidak mungkin baginya.

Manusia diperintahkan salat dan dilarang membunuh menunjukkan bahwa Tuhan memandang manusia sebagai makhluk bebas, dan apapun yang diperintahikan untuk melakukan atau tldak melakukan adalah dalam batas kemampuannya.

Kitab Suci al-Qur’an telah juga menjelaskan kebebasan manusia dengan menekankan pertanggungan jawab dari setiap individu untuk setiap apa yang ia lakukan:

Barangsiapa melakukan kebaikan, maka kebaikan itu untuk dirinya sendiri dan barangsiapa melakutan kesesatan, akan merugikan dirinya sendiri. Dan seorang pemikul beban tiada dapat memikul beban orang lain.” QS 17: 7

Katakan: Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran dari Tuhanmu, sebab itu siapa yang menurut jalan yang benar, dia menurut jalan yang benar itu untuk (kebaikan) dirinya, dan siapa yang tersesat maka dia tersesat untuk dirinya. Dan Aku bukan penjaga kamu.” QS 10 : 108.

Setiap pengertian dari pertanggungan jawab dari individu jelas menunjukkan bahwa perorangan adalah wakil yang bebas (a free agent). Wakil yang tidak bebas tidak dapat dibebani tanggungjawab untuk segala sesuatu yang mungkin dihasilkan olehnya.

Pertanggungan jawab tidak dapat dipisahkan dari kebebasan.

(mhy)



Sumber Artikel KLIK DISINI