loading…

Pernyataan Ustadz Felix Siauw yang menyebutkan jika dalam demokrasi suara profesor setara dengan suara orang gila yang difasilitasi memilih ini sempat mencuri perhatian publik.

Perkataan tersebut disampaikan oleh Ustadz Felix Siauw dalam sebuah podcast yang diunggah dalam kanal Youtube @YNTV atau Yuk Ngaji TV pada 9 Februari 2024.

Tema yang diangkat dalam podcast tersebut adalah tentang sistem demokrasi , mengingat sebentar lagi Indonesia akan memasuki masa Pemilihan Umum yang menjadi pesta demokrasi terbesar.

Dalam podcast tersebut Ustad Felix mengungkapkan, “jika urusan Pilpres ini disamakan dengan endorsement atau bisnis maka yang akan jadi adalah dia yang paling kaya, bukan yang paling punya ide, ataupun kepedulian terhadap negeri ini,”.

Hal tersebut diungkapkan setelah banyaknya fenomena orang di sosial media yang dibayar hanya demi mendukung satu pasangan calon saja, seakan sosok paslon tersebut adalah produk yang ditawarkan oleh influencer tersebut.

Sempat disinggung juga tentang warganet yang lebih mempercayai suara influencer atau artis ketimbang orang-orang yang memiliki kompetensi.

Dari situ Ustadz Felix menyimpulkan jika “ya wajar lah karena orang-orang kita itu masih belum banyak yang belum berpendidikan jadi kebanyakan mereka hanya berpikir tentang insentif seperti meminta baju atau sembako ke pihak yang berkampanye.”

“Hal tersebut seakan membuat demokrasi akan lebih berharga bagi orang-orang pintar,” lanjut Ustadz asal Palembang tersebut.

Ustadz Felix juga menambahkan, “tapi sebenarnya guna pemerintah untuk mengatur ini justru adalah untuk mengatur orang-orang yang kurang pintar karena orang yang sudah pintar ini tidak perlu diatur sebab sudah paham aturan”.

“Nah masalahnya jika tidak semuanya adalah orang pintar, kok bisa disamakan antara suara satu orang profesor dengan satu orang yang gila bahkan jika difasilitasi.” Menurut Felix Yanwar Siauw.

Karena itulah Ustadz Felix Siauw kurang setuju dengan sistem demokrasi saat ini, menurutnya “demokrasi itu menyamakan seseorang yang terpelajar dengan orang yang tidak belajar.”

Dari situlah mengapa seorang influencer suaranya bisa lebih didengar ketimbang para profesor atau guru besar ketika menyampaikan sesuatu tentang demokrasi.

(wid)



Sumber Artikel KLIK DISINI