loading…

Hukum tahlilan menurut 4 mazhab, tidaklah seragam. Ilustrasi: Ist

Hukum tahlilan menurut 4 mazhab , tidaklah seragam. Namun, sebelum membahas lebih detail masalah ini perlu diketahui terlebih dahulu apa itu tahlilan.

Abdul Aziz dalam bukunya berjudul “Tahlilan Bukan Pesta Kematian dan Tranfer Pahala Bukan Menambah Duka” menyebutkan bahwa tahlil adalah membaca kalimat Laa Ilaaha Illallah, sedangkan tahlilan adalah ritual atau perkumpulan yang berisi membaca ayat-ayat al-Quran , tahli, zikir, selawat dan sebagainya.

Ini merupakan kegiatan membaca serangkaian ayat Al-Qur’an dan kalimat thayyibah (tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir), di mana pahala bacaan tersebut dihadiahkan untuk para arwah (mayit) yang disebutkan oleh pembaca atau oleh pemilik hajat.

Tahlilan biasanya dilaksanakan pada hari-hari tertentu, seperti tujuh hari berturut-turut dari kematian seseorang, hari ke-40, ke-100, atau ke-1000-nya.

Tahlilan juga sering dilaksanakan secara rutin pada malam Jumat atau malam-malam tertentu lainnya. Setelah tahlilan, biasanya pemilik hajat akan memberikan hidangan makanan untuk dimakan di tempat atau dibawa pulang.

Dengan demikian, inti tahlilan adalah: Pertama, menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an dan kalimat thayyibah kepada mayit. Kedua, mengkhususkan bacaan itu pada waktu-waktu tertentu, yaitu tujuh hari berturut-turut dari kematian seseorang, hari ke-40, ke-100, dan sebagainya. Ketiga, bersedekah untuk mayit, berupa pemberian makanan untuk peserta tahlilan.

Lalu, bagaimanakah pendapat para ulama terkait ketiga masalah tersebut?

Berbeda Pendapat

Pertama, para ulama berbeda pendapat tentang hukum menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an dan kalimat thayyibah kepada mayit.

Ulama mazhab Hanafi , sebagian ulama mazhab Maliki, ulama mazhab Syafi’i, dan ulama mazhab Hanbali menegaskan, menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an serta kalimat thayyibah kepada mayit hukumnya boleh, dan pahalanya sampai kepada sang mayit. Syekh Usman bin Ali Az-Zaila’i dari mazhab Hanafi dalam “Tabyinul Haqaiq Syarh Kanzud Daqaiq” menyebutkan:

“Bahwa seseorang diperbolehkan menjadikan pahala amalnya untuk orang lain, menurut pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah, baik berupa salat, puasa, haji, sedekah, bacaan Qur’an, zikir, atau sebagainya, berupa semua jenis amal baik. Pahala itu sampai kepada mayit dan bermanfaat baginya.”

Sedangkan, Syekh Muhammad bin Ahmad bin Arafah Ad-Dasuqi dari mazhab Maliki dalam “Hasyiyatud Dasuqi Alas Syarhil Kabir Ad-Dasuqi” menyebutkan:

“Jika seseorang membaca Al-Qur’an, dan menghadiahkan pahala bacaannya kepada mayit, maka hal itu diperbolehkan, dan pahala bacaannya sampai kepada mayit.”

Selanjutnya, Imam Nawawi dari Mazhab Syafi’i dalam Al-Majmu’ menuturkan:

“Dan disunahkan bagi peziarah kubur untuk mengucapkan salam kepada (penghuni) kubur, serta mendoakan mayit yang diziarahi dan semua penghuni kubur. Salam serta doa lebih diutamakan menggunakan apa yang sudah ditetapkan dalam hadis Nabi. Begitu pula, disunahkan membaca apa yang mudah dari Al-Qur’an, dan berdoa untuk mereka setelahnya.”

Syekh Ibnu Qudamah dari mazhab Hanbali dalam Al-Mughni juga menuturkan:

“Dan apapun ibadah yang dia kerjakan, serta dia hadiahkan pahalanya kepada mayit muslim, akan memberi manfaat untuknya. Insya Allah. Adapun doa, istighfar, sedekah, dan pelaksanaan kewajiban maka saya tidak melihat adanya perbedaan pendapat (akan kebolehannya).”

Di antara ulama yang membolehkan menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an dan kalimat thayyibah kepada mayit adalah Syekh Ibnu Taimiyyah. Dalam kitab Majmu’ul Fatawa disebutkan:



Sumber Artikel KLIK DISINI