loading…

Bila Imam Syafii masih hidup, entah bagaimana perasaannya saat ini menyaksikan kondisi Gaza tanah kelahirannya digenangi oleh darah-darah manusia tak berdosa. Karena, di saat beliau masih hidup sempat menulis sebuah syair kerinduan terhadap kampung halam

Kondisi Kota Gaza , Palestina saat ini benar-benar sangat mengkhawatirkan. Puluhan ribu rakyat Gaza menjadi korban kekejaman zionis Israel. Gaza penuh darah dan kematian, bahkan hampir didominasi oleh anak-anak yang tidak berdosa.

Dan tahukah Anda? Ternyata, Gaza ini adalah tanah kelahiran imam Mazhab yakni Imam Syafi’i . Hal itu termaktub dalam Manaqib as Syafi’i (1/73), ditulis oleh Al Baihaqi bahwa Imam Syafi’i lahir di Gaza sebagaimana dikatakan oleh Imam Syafi’i sendiri.

Gaza terletak di pantai timur Laut Tengah, bagian dari wilayah negara Palestina, di barat daya berbatasan dengan Mesir, dan di sebelah timur dan utara berbatasan dengan Israel. Memiliki luas 265 kilometer persegi dan dihuni oleh 2,3 juta penduduk. Dengan demikian, Gaza merupakan salah satu tempat terpadat penduduknya di dunia.

Entah bagaimana perasaan Imam Syafi’i saat ini menyaksikan tanah kelahirannya digenangi oleh darah-darah manusia tak berdosa. Karena, di saat beliau masih hidup sempat menulis sebuah syair kerinduan terhadap kampung halamannya.

Syair tersebut tertulis dalam Mu’jam al Buldan (2/202):

Aku merindukan tanah Gaza
Sekalipun rahasia mengkhianatiku setelah perpisahan
Tuhan mengairi tanah itu
Jika aku dapat menemukan tanahnya
Maka kelopak mataku akan memerah
Karena kerinduanku yang sangat besar

Begitulah bait syair Imam Syafi’i menceritakan kerinduannya terhadap Gaza.

Lahir dan Wafatnya Imam Syafi’i

Imam Syafi’i bernama lengkap Muhammad bin Idris bin ‘Abbas bin ‘Usman bin Syaafi’ bin Saaib bin ‘Ubaid bin ‘Abdu Yazid bin Haasyim bin ‘Abdul Mutthalib bin ‘Abdul Manaf. Beliau adalah pendiri mazhab Syafi’i yakni mazhab fikih dalam suni yang sangat banyak pengikutnya.

Ustaz Teuku Khairul Fazli Lc dalam buku Ushul Fiqih Mazhab Syafi’i yang diterbitkan Rumah Fiqih Publishing menjelaskan biografi singkat Imam Syafi’i. Ia menceritakan kelahiran dan wafatnya Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i merupakan satu-satunya imam mazhab dari keturunan Quraisy. Nasabnya tersambung kepada Rasulullah SAW melalui ‘Abdul Manaf. Rasulullah SAW bersabda, “kepemimpinan itu dari kalangan orang-orang Quraisy.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Fakhrurrazi salah satu ulama besar yang bermazhab Syafi’i berkata, Jurjani merupakan satu ulama dari kalangan mazhab Hanafi yang mencela nasabnya Imam Syafi’i.

Beliau juga berkata bahwa pengikut mazhab Maliki tidak mengakui bahwa nasab Imam Syafi’i berasal dari Quraisy. Bahkan mereka beranggapan Syaafi’ yakni kakek ketiga Imam Syafi’i adalah budak Abu Lahab. Cerita hoaks ini sudah dibantah oleh mayoritas ulama pengikut mazhab Syafi’i.

Imam Nawawi mengatakan, ulama sepakat bahwa Imam Syafi’i lahir pada tahun 150 Hijriyah yang bertepatan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah. Imam Yaqut berkata, Imam Syafi’i lahir pada hari wafatnya Imam Abu Hanifah. Walaupun mayoritas ulama tidak memperhitungkan pendapat ini.

Para ulama berselisih pendapat mengenai di mana Imam Syafi’i dilahirkan. Ada tiga pendapat. Pertama, Imam Syafi’i dilahirkan di Gaza pada tahun 150 H. Pada umur tiga tahun pindah ke Makkah. Kedua, Imam Syafi’i dilahirkan di ‘Asqalan, jarak antara ‘Asqalan dengan Gaza sekitar 3 Farsakh dan kedua daerah ini masuk dalam wilayah Palestina.

Ketiga, Imam Syafi’i dilahirkan di Yaman, khawatir takut telantar, ibunya membawanya ke Makkah. Ini merupakan pendapat yang paling lemah di antara pendapat yang lainnya.

Mengenai pendapat pertama dan kedua walaupun secara dhahirnya kontradiksi, namun bisa dikompromikan. Perkataan Imam Syafi’i bahwa dirinya lahir di Gaza, maksudnya adalah desa. Sedangkan perkataan Imam Syafi’i bahwa dirinya lahir di ‘Asqalan, maksudnya adalah kota. Kedua tempat tersebut sama-sama masuk dalam wilayah Palestina.

Imam Syafi’i menderita penyakit Beser yang sangat parah. Hingga menyebabkan beliau meninggal dunia. Ada juga isu yang tersebar di tengah-tengah masyarakat bahwa beliau meninggal dunia karena pertikaian antara beliau dengan pemuda pengikut mazhab Maliki, karena kalah debat, pemuda ini melaporkan Imam Syafi’i ke Gubernur Mesir. Akhirnya gubernur mengirim utusan untuk membunuh Imam Syafi’i. Akan tetapi kisah ini tidak bisa dipertanggungjawabkan keotentikannya.

Imam Syafi’i meninggal dunia pada malam Jumat setelah Maghrib. Ada juga yang mengatakan setelah Isya pada akhir bulan Rajab, tepatnya pada tahun 204 H dan beliau di kebumikan di Mesir.

Wallahu A’lam

(wid)



Sumber Artikel KLIK DISINI