loading…

Penganut Majusi di Persia banyak yang berpindah memeluk Islam. Ilustrasi: Ist

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq telah merintis berdirinya Kedaulatan Islam , yang di masa Khalifah Umar bin Khattab berkembang dari perbatasan China di timur sampai ke seberang Sirenaika (Cyrenaica) di barat, dan dari Laut Kaspia di utara sampai ke Nubia di selatan, termasuk Persia, Irak, Syam dan Mesir , yang kesemuanya tergabung ke negeri Arab.

“Semua unsur etnik yang saling terjalin yang merupakan ciri khas masing-masing bangsa itu, besar sekali pengaruhnya dalam pembinaan peradaban dunia di kemudian hari,” tulis Muhammad Husain Haekal dalam buku yang diterjemahkan Ali Audah berjudul “Umar bin Khattab“(Pustaka Litera AntarNusa, 1987).

Menurutnya, interaksi unsur-unsur etnik itu berjalan sewajarnya, baik Amirulmukminin atau penguasa lain tak dapat menghapus jejaknya atau mengubah yang sudah berjalan teratur itu.

Haekal menjelaskan tatkala bangsa-bangsa itu tergabung ke dalam panji Kedaulatan Islam, dalam berbagai faktor mereka sangat berbeda satu sama lain. Mereka masing-masing saling berbeda bahasa, ras, keyakinan, budaya, lingkungan sosial dan ekonomi.

“Memang benar bahwa kabilah-kabilah Arab itu tinggal di pedalaman Samawah di perbatasan Irak dengan Syam, dan kabilah-kabilah ini membangun kerajaan Hirah dan Banu Gassan, tetapi penduduk Syam yang asli dan penduduk Irak yang asli bukan dari ras Arab, bahasa mereka pun bukan bahasa Arab,” jelasnya.

Sedang Persia dan Mesir, dari segi ras dan bahasa samasekali tak ada hubungannya dengan Arab. Kepercayaan orang Persia berbeda dengan kepercayaan orang Syam atau orang Mesir.

Penduduk Irak terbagi antara penganut agama Nasrani Romawi dengan agama Majusi Persia. Tata kehidupan dan corak budaya masing-masing bangsa ini berbeda jauh sekali dengan bangsa-bangsa yang lain.

Bangsa-bangsa ini semua – dengan perbedaan-perbedaan yang begitu besar – tergabung tuntas ke dalam kesatuan Kedaulatan Islam, hanya dalam waktu tidak lebih dari sepuluh tahun. Tetapi kekuatan yang dapat menaklukkan bangsa-bangsa itu dan menggabungkan mereka ke dalam satu kekuasaan politik tak dapat menghilangkan perbedaan unsur-unsur pembentukannya yang mendasar.

Hanya evolusi saja yang dapat mengubah bangsa-bangsa itu ke dalam keadaan yang lain, sesudah selama sekian abad dan generasi demi generasi bertahan dengan keadaan serupa itu.

Haekal mengajak kita kembali kepada ingatan kita apa yang telah dicatat oleh kalangan sejarawan sekitar dialog-dialog yang konon terjadi antara utusan-utusan Muslimin dengan Kisra Yazdigird serta panglimanya Rustum, antara Khalid bin Walid dengan Georgius panglima Romawi dalam Perang Yarmuk. Begitu juga dialog-dialog yang terjadi antara Najasyi Abisinia dengan kaum Muslimin yang hijrah ke sana.

Percakapan-percakapan itu intinya bahwa Arab dulu itu lemah karena kelompok-kelompok mereka terpecah belah; mereka hina, nasib mereka di bawah kekuasaan golongan lain; mereka miskin, berjuang mati-matian sekadar mencari makan.

Setelah Allah mengutus Rasul-Nya kepada mereka dengan membawa Islam, mereka bersatu; mereka bebas dari kelaparan, hidup terhormat setelah sebelum itu mereka begitu hina.

“Sudah tentu dialog-dialog serupa itu memang terjadi; kalaupun tidak sama seperti yang diuraikan para sejarawan itu, intinya tidak berbeda,” tutur Haekal.

Risalah (ajaran) baru yang dibawa oleh Islam itu menjadi bahan pemikiran kaum Muslimin ke mana pun mereka pergi. Kemenangan orang Arab yang percaya kepada risalah ini merupakan bukti adanya perbaikan organisasi dalam kehidupan spiritual dan sosial.

Ke mana pun konsep ajaran Islam itu tersebar dapat menguasai perasaan umum, dengan meninggalkan pengaruh yang dapat memperkuat atau memperlemah, sesuai dengan situasi tempat konsep itu tersebar. Dan sesuai dengan taraf kekuatan atau lemahnya pengaruh itu, konsep tersebut merasuk ke dalam hati orang hingga ia mencapai kedudukan iman, atau kebalikannya, menguap sedikit demi sedikit sampai akhirnya terlupakan samasekali.

(mhy)



Sumber Artikel KLIK DISINI