loading…

Selama ia menjalankan tugasnya selaku khalifah tak pernah terpikirkan hendak mencari kekayaan untuk dirinya atau keluarganya. Ilustrasi: Ist

Saat Khalifah Umar bin Khattab mengimami salat subuh , Abu Lu’lu’ah Fairuz, budak al-Mugirah menikamnya. Tikaman itu mengenai bawah pusarnya memutuskan lapisan kulit bagian dalam dan usus lambung. Tak lama kemudian Umar menghadap Ilahi. Peristiwa itu terjadi pada hari Rabu tanggal 4 Zulhijah tahun ke-23 Hijri.

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul “Al-Faruq Umar” menceritakan Umar dimandikan dan dikafani dengan tiga lapis kain, selanjutnya dibawa ke Masjid dan disalatkan oleh Suhaib.

Setelah mereka mengusung jenazah itu sampai di depan pintu rumah Aisyah , berhenti. Saat itu Abdullah bin Umar berkata: “Umar bin Khattab ·meminta izin untuk dimakamkan bersama kedua sahabatnya.”

Dijawab oleh Aisyah: “Masuklah dengan selamat.”

Mereka masuk ke bilik Rasulullah , dan jenazah itu diturunkan ke tempat peraduan terakhir. Kepala Abu Bakar ditempatkan di bagian bahu Nabi, dan kepala Umar di bagian bahu Abu Bakar .

Abdullah bin Umar yang bertindak meletakkan jasad itu di tempatnya. Yang juga turun bersama-sama dia kelima anggota majelis syura: Utsman bin Affan , Ali bin Abi Thalib , Abdur-Rahman bin Auf , Sa’d bin Abi Waqqas dan Zubair bin Awwam.

Sedang Talhah bin Ubaidillah masih berada di luar kota, sehingga tidak dapat menghadiri prosesi penguburan Umar.

Selesai menguburkan dan menimbun liang lahad, orang-orang yang berada di dekat tempat itu berkumpul di Masjid dengan kesedihan mendalam mencekam kalbu mereka.

Rasa duka telah meremas jantung mereka, kematian seorang tokoh yang jarang ada tolok bandingnya – Amirulmukminin – seorang pemimpin umat beriman yang selama ini berkorban demi kepentingan mereka, mereka yang merasa gamang dan gentar menghadapi ketegasan dan tindakannya yang keras, yang selama sepuluh tahun enam bulan bersama-sama dengan mereka.

Selama itu ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang paling banyak berbakti, paling adil dan sangat bertakwa. Karena itu, makin lama kecintaan mereka kepadanya makin besar.

Betapa mereka tidak akan merasa demikian, pada permulaan pemerintahannya mereka yang dalam kekurangan, karena jasanya Allah telah melapangkan hidup mereka.

Mereka yang tadinya selalu dibayangi ketakutan dari Persia dan Romawi, dengan karunia Allah berbalik menjadi tuan atas kedua raksasa Persia dan Romawi itu!

Dengan demikian kedaulatan Islam jadi stabil dan mantap. Memang pantas sekali Umar dimakamkan bersama kedua sahabatnya itu, berada di samping mereka dan kini arwahnya menjadi tenang, bahwa dia telah menjalankan kebijakan kedua sahabatnya itu, telah menyempurnakan ketentuan Allah di muka bumi ini ketika Allah mewahyukan kepada Nabi-Nya suatu risalah untuk disempurnakan.

Umar telah menyelesaikan tugasnya ini, sebab dia sudah melupakan dirinya, sebab hanya persatuan Muslimin dan kebesaran Islam yang menjadi tujuan utamanya.

Selama ia menjalankan tugasnya selaku khalifah tak pernah terpikirkan hendak mencari kekayaan untuk dirinya atau keluarganya. Bahkan ia melihat segala yang ditanganinya mengenai kepentingan Muslimin merupakan suatu beban berat yang harus dipikulnya.

Tujuan utamanya, janganlah ada keraguan yang melekat di hati orang atau dalam dirinya. Di wilayahnya itu ia harus menunaikan segala hak orang dan kewajibannya yang harus ditunaikan. Dan semua itu sudah ia lakukan dan Allah telah memuliakan dan memperkuat Islam, kemudian mewariskan bumi ini kepada hamba-hamba-Nya yang saleh, yang mau memperbaikinya.

(mhy)



Sumber Artikel KLIK DISINI