[ad_1]

loading…

Ustaz Mukhlis Mukti Al-Mughni, Dai lulusan Al-Azhar Mesir. Foto/RHS

Ustaz Mukhlis Mukti Al-Mughni
Dai Lulusan Al-Azhar Mesir,
Yayasan Pustaka Afaf

Pada lanjutan Tadabbur Surat An-Nur ini, Allah menerangkan bahwa perempuan-perempuan yang tidak baik biasanya menjadi istri laki-laki yang tidak baik pula. Dan sebaliknya, perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik pula.

Sudah menjadi sunnatullah bahwa seseorang selalu cenderung kepada orang yang memiliki kesamaan dengannya. Hal tersebut ditegaskan pada ayat ini sebagaiman firman-Nya:

اَلْخَبِيْثٰتُ لِلْخَبِيْثِيْنَ وَالْخَبِيْثُوْنَ لِلْخَبِيْثٰتِۚ وَالطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَالطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبٰتِۚ اُولٰۤىِٕكَ مُبَرَّءُوْنَ مِمَّا يَقُوْلُوْنَۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ

Artinya: “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS. An-Nur Ayat 26)

Pesan dan Hikmah
1. Ayat ini menjadi alasan kebenaran kesucian Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha dikarenakan beliau telah bersuamikan manusia terbaik, Rasulullah ﷺ. Mustahil manusia terbaik mendapatkan pasangan yang tidak baik. Dengan kata lain cukuplah untuk menilai seseorang baik dan tidak lihat saja pasanganya. Ini lebih menenangkan dan menyelamatkan sikap kita.

2. Pada ayat 3 Surat An-Nur sudah disinggung bahwa pernikahan itu dilandasi sikap takafu’ atau kesetaraan, agar pasangan yang satu tidak mengalahkan atau meninggikan pasangan lainnya. Termasuk di antara kesetaraan ini adalah karakter keshalihan atau kebaikan.

3. “Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” Sebuah penguatan tentang suci dan bersihnya Sayyidah Aisyah dan juga Shafwan dari tuduhan kaum munafik dengan dalil ayat kesetaraan ini. Berkat kesabaran mereka menghadapi ujian ini merekapun mendapatkan ampunan dan rezeki yang mulia. Tentu bukan rezeki yang sifatnya zahir tapi lebih kepada maknawi seperti kemuliaan dan kedudukan yang tinggi bukan rezeki makan dan minum.

(Bersambung)!

(rhs)

[ad_2]

Sumber Artikel KLIK DISINI