[ad_1]

loading…

Khutbah Jumat ini bisa dijadikan materi atau referensi bagi khatib maupun Dai yang akan menyampaikan khutbah Jumat. Foto/dok islamonline

Khutbah Jumat kali ini mengangkat tema keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Hari ini kita memasuki 4 Dzulhijjah bertepatan Jumat pertama 23 Juni 2023.

Berikut materi Khutbah Jumat Dzulhijjah disampaikan KH Bukhori Sail Attahiry dilansir dari website resmi Masjid Istiqlal Jakarta. Khutbah ini bisa dijadikan materi dan referensi bagi khatib maupun Dai yang hendak menyampaikan khutbah Jumat.

Allah subhanahu wata’ala memberikan keutamaan pada waktu-waktu agung. Di antara waktu agung yang diberikan keutamaan oleh Allah adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Keutamaan tersebut memberikan kesempatan kepada umat Islam agar memanfaatkannya untuk berlomba mendapatkan kebaikan, baik di dunia maupun di Akhirat. Hal ini dijelaskan melalui Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut:

Artinya: “Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baiknya hari dunia adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” Ditanya, “Apakah jihad di jalan Allah tidak sebaik itu?” Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tidak akan sama jika dibandingkan dengan jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang menaburkan wajahnya dengan debu (gugur sebagai syahid).” (HR Al-Bazzar dengan sanad yang hasan dan Abu Ya’la dengan sanad yang shahih)

Para ulama memberikan penjelasan mengenai keutamaan sepuluh hari Dzulhijjah yang merupakan hari-hari terbaik di dunia ini. Antara lain karena induk-induk amal baik terkumpul pada hari tersebut, dan tidak didapati pada hari-hari lain. Pada hari itu Allah subhanahu wa ta’ala lipatgandakan segala pahala kebaikan menjadi seperti pahala orang yang melakukan jihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala kemudian gugur di medan perang.

Pada Sepuluh hari Dzulhijjah ini Allah subhanahu wata’ala perintahkan kita (sunnah) untuk memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, memperbanyak bersedekah, memperbanyak berpuasa. Melaksanakan haji bagi yang mampu, dimana pada pelaksanaan haji tersebut terkumpul segala macam ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala, dan Allah subhanahu wata’ala perintahkan juga untuk berqurban.

Diriwayatkan dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ أًيّاَمٍ أَعظَمُ عِندَ اللهِ وَلا أَحَبُّ إِليْهِ العَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هذهِ الأَيَّامِ العَشْرِ فَأَكْثِرُوْا فِيهنَّ من التًّهْلِيْل والتَّكْبِير والتَّحْمِيد

Artinya: “Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah dari pada hari yang sepuluh (10 hari pertama dari Dzulhijjah), karenanya perbanyaklah Tahlil, Takbir, dan Tahmid di dalamnya.” (HR Ahmad dan at-Thabrani).

Kita juga disunahkan untuk berpuasa dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah. Bagi yang keberatan berpuasa dari tanggal 1 hingga 9, maka usahakan tidak terlewatkan puasa hari Arafahnya yaitu tanggal 9 Dzulhijjah. Karena puasa pada hari Arafah dapat menghapus dosa selama dua tahun, yaitu setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.

Pada hari kesepuluh Dzulhijjah, kita diperintahkan untuk melaksanakan shalat Idul Adha lalu diteruskan dengan menyembelih hewan kurban. Meyembelih hewan kurban hukumnya sunnah muakkadah bagi yang mampu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Artinya: “Barang siapa yang mempunyai kelonggaran kemudian tidak berqurban, maka jangan dekati tempat shalat kami.”

Bagi yang telah berniat melaksanakan kurban diperintahkan untuk tidak tidak memotong kuku, rambut dan yang berkaitan dengan kulitnya semenjak masuk bulan Dzulhijjah. Diriwayatkan dari Ummu Salamah berliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika telah masuk Sepuluh hari pertama dan berkeinginan untuk berqurban, maka jangan ambil (potong) rambutnya, kulitnya maupun kukunya.”

Kita juga ditekankan untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa, karena perbuatan dosa pada bulan Haram dosanya berlipat ganda. Meskipun perbuatan dosa kapan saja dilarang. Akan tetapi pada bulan Dzulhijjah yang merupakan salah satu dari Empat bulan Haram, lebih ditekankan untuk meninggalkan perbuatan dosa. Sebagimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat at-Taubah ayat 36:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu…” (QS. at-Taubah [9] ayat 36)

Inilah di antara keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah yang tentu sangat banyak dan tidak mungkin kita sebutkan semuanya. Semoga kita dapat ambil manfaat dan kita diberikan kemudahan oleh Allah untuk mempraktikkan amalan amalan tersebut pada kesempatan yang sangat berharga ini. Aamiin.

(rhs)

[ad_2]

Sumber Artikel KLIK DISINI