loading…

Arthur Neville Chamberlain. Foto/Ilustrasi: wikipedia

Pada tahun 1939, Pasukan Jerman menyerbu bagaikan angin topan dan menduduki Polandia , lalu melalap Prancis dan Eropa Barat . Pasukan lapis baja Jerman yang dilengkapi dengan tank jenis panser yang terkenal itu, mampu menumbangkan pasukan Inggris, atau memaksa mereka menyerah dalam sekejap mata.

“Hanya saja, pada saat itu tiba-tiba Adolf Hitler mengeluarkan perintah tertanggal 22 Mei 1940, agar pasukannya berhenti menyerang,” tulis William G. Carr dalam bukunya berjudul “Yahudi Menggenggam Dunia” (Pustaka Kautsar, 1993).

Perintah yang ditujukan kepada komandan pasukan lapis baja Jerman, jenderal Von Klaist itu berbunyi sebagai berikut, “Seluruh divisi lapis baja supaya menghentikan operasinya dengan mengambil jarak yang cukup dari battery meriam kota Dankert, yang memungkinkan bisa melakukan gerakan defensif atau berjaga-jaga”.

Sudah tentu, jenderal Von Klaist sangat terkejut adanya perintah itu. Sebab, pasukannya ketika itu mampu menghancurkan pasukan Inggris sama sekali kalau dikehendaki.

Ia lebih terkejut lagi ketika mendapat perintah yang kedua yang lebih membingungkan lagi. Hitler memberi instruksi untuk menarik mundur pasukannya ke belakang garis front pertempuran di dekat kota itu, setelah pasukan lapis baja Jerman berhasil menyeberang masuk melewati garis tersebut. Pasukan Jerman itu terpaksa berhenti selama tiga hari dalam keadaan tidak menentu.

Dalam bukunya berjudul “Ujung Lembah yang Lain” (Another End of the Plain), seorang kapten dalam pasukan Von Klaist bernama Liddle Hart menulis, bahwa dua perwira tinggi jenderal Ronchidt dan Von Klaist menghadap Hitler untuk menyampaikan protes atas instruksi Hitler yang membingungkan.

Namun kedua perwira itu lebih terkejut lagi setelah mendengar jawaban sang Fuhrer yang menjelaskan, bahwa perintahnya itu bermaksud memberikan kesempatan pasukan Inggris untuk menarik mundur pasukannya, tanpa memerlukan jatuhnya korban, dan untuk menjaga wibawa angkatan bersenjata Inggris yang telah dikenal oleh dunia itu.

Hitler punya keyakinan, bahwa kelestarian kerajaan Inggris masih sangat diperlukan. Di samping itu, Hitler mengharapkan agar terbuka kesempatan untuk mengadakan pembicaraan damai dengan Inggris, yang berarti akan mengakhiri perang melawan Inggris, dengan syarat Inggris harus memenuhi tuntutan Jerman.

Ada bukti lain, bahwa angkatan udara Jerman menolak untuk melakukan serangan udara selama bulan-bulan pertama perang itu, yaitu selama Perdana Menteri Inggris Chamberlain masih berkuasa.

Pasukan Inggris juga menolak untuk menyerang kota-kota Jerman yang akan membawa korban penduduk sipil. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh Chamberlain tanggal 2 September 1939, tepatnya pada hari pecahnya perang.

Chamberlain berkata, bahwa pasukannya hanya akan menyerang sasaran militer. Perang itu berlangsung hingga pasukan Inggris ditarik mundur dalam kondisi lebih mirip damai daripada perang yang sebenarnya, darikota Dankert.

Pasukan Jerman tidak mengadakan serbuan lebih jauh masuk ke wilayah Inggris, kecuali melakukan manuver militer kecil-kecilan. Situasi ini ditentang keras oleh tokoh-tokoh Nazi di Jerman, dan para pemilik modal Yahudi internasional di Inggris.

Setelah itu, seperti biasanya media massa di Inggris menyerang Chamberlain dengan gencar, dibarengi dengan tekanan berat terhadap pemerintahnya.

Chamberlain terpaksa meletakkan jabatan dalam kondisi seperti dialami oleh Asquith dan pemerintahnya dalam Perang Dunia I. Kemudian digantikan oleh wajah yang sama pernah menggantikan Lord Asquith sendiri, yaitu Winston Churchill.

Ia menduduki kursi perdana menteri tanggal 11 Mei 1940, langsung mengeluarkan perintah kepada angkatan udara Inggris untuk mengadakan serangan udara terhadap sasaran di kota-kota Jerman untuk pertama kalinya.

Inilah awal pengeboman atas kota-kota penduduk sipil di seluruh dunia. Perkembangan seperti itulah yang ditunggu-tunggu oleh para tokoh Nazi berhaluan keras.

Ini berarti, mereka telah melihat saat yang tepat untuk mengadakan penyerbuan besar-besaran ke arah Timur dan Barat. Lebih-lebih setelah diketahui ternyata pasukan Nazi dengan mudah bisa merebut beberapa kemenangan sebelumnya. Mereka segera mengadakan pertemuan puncak yang dihadiri oleh eselon satu tokoh-tokoh Nazi untuk membahas perkembangan yang terjadi.



Sumber Artikel KLIK DISINI