loading…

Kekuasan Khalid sampai ke pantai Tigris, dan petugas-petugasnya memungut jizyah di daerah-daerah yang berada di antara Teluk Persia. Ilustrasi: Ist

Pemerintahan Islam yang dipimpin Khalid bin Walid di Hirah, Irak, sangat melindungi petani dan rakyatnya. Jauh lebih baik dibanding berada di bawah Persia . Hal ini membuat daerag-daerah Persia yang berdekatan dengan Hiran memilih di bawah Khalid.

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul “Abu Bakr As-Siddiq” yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah (PT Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menceritakan yang pertama sekali mengajak damai ialah Suluba bin Nastuna penguasa Quss al-Maqatif di bilangan Banqia dan Basma.

Kemudian dibuat persetujuan mengenai jizyah dan perlindungan dengan pembayaran 10 ribu dinar setiap tahun; yang mampu disesuaikan dengan kemampuann dan yang tak mampu disesuaikan dengan ketidakmampuannya.

Persetujuan ini ditutup dengan kata-kata berikut yang ditujukan kepada Suluba: “Engkau sudah menjadi pemimpin kaummu dan kaummu sudah setuju dengan engkau, dan aku dengan kaum Muslimin pasukanku setuju.”

Pejabat-pejabat (dahaqin, para dihkan) lain selain Suluba yang berada di sekitar Falahij dengan Hormuzgerd juga cepat-cepat mengadakan persetujuan dengan Khalid dengan membayar dua ribu (dinar).

Dengan demikian kekuasan Khalid sampai ke pantai Tigris, dan petugas-petugasnya memungut jizyah di daerah-daerah yang berada di antara Teluk Persia di selatan dan Hirah di utara dengan perbatasan negeri Arab di barat sampai ke Tigris di sebelah timur.

Khalid membentuk korps-korps militer dengan perbentengan yang kuat sekali untuk mencegah adanya serangan musuh. Di mana pun mereka berada harus memperlihatkan kewibawaan Islam di mata penduduk.

Pembagian satuan-satuan di daerah-daerah ini pengaruhnya sangat menentukan dalam menumpas setiap rencana pengacauan, dan menanamkan kewibawaan pasukan Muslimin yang benar-benar tangguh.

Kegelisahan Raja Persia

Haekal melanjutkan yang dikhawatirkan Khalid ialah timbulnya kerusuhan dari pihak kabilah-kabilah Arab. Sedang Persia hanya tinggal Mada’in yang masih jauh dari pasukan Muslimin, di samping kekacauan di kalangan mereka sendiri, yang membuat mereka tak dapat lagi memikirkan yang lain-lain.

Syiruya (Khavad II) dan pengganti-penggantnya sudah membunuhi semua ahli waris takhta dari anak-anak Kisra dan Bahram Gor, sehingga tak ada lagi orang yang dapat dinobatkan menjadi raja Persia dan yang dapat mempersatukan mereka.

Ketika yang naik takhta para ratu, kerajaan ini semakin lemah. Oleh karena itu, orang-orang Persia sudah merasa puas jika ibu kota mereka menjadi aman dengan dibangunnya di sekitar kota itu kekuatan angkatan bersenjata, dengan menggunakan Sungai Syir yang menghubungkan Sungai Furat dengan Sungai Tigris sebagai bentengnya, sementara kerajaan mereka tetap dalam keadaan rusak dan kacau.

Menurut Haekal, tetapi kekuatan Persia itu tak akan mampu membendung serangan Khalid kalau tidak karena ada perintah Abu Bakar agar jangan meninggalkan Hirah atau meneruskan langkah operasinya, sebelum Iyad bin Ganm menyusulnya untuk melindungi pasukannya dari belakang.

Iyad memang masih tinggal di Dumat al-Jandal, sebab sejak kedatangannya ke sana ia tak dapat menguasai keadaan penduduk. Karena itu Khalid tinggal lagi setahun penuh di kotanya yang baru itu. Ia merasa tersiksa karena jauh dari medan pertempuran.

Sering sekali ia berkata kepada teman-temannya: “Sebenarnya aku tidak memerlukan pertolongan Iyad, kalau tidak karena adanya perintah Khalifah. Untuk membebaskan Persia sekarang sudah bukan masalah. Tahun ini bagiku seolah tahun perempuan!”

Menantang Raja Persia

Khalid merasa jemu, kesepian. Dipanggilnya beberapa orang tokoh Hirah dan ia menyerahkan dua pucuk surat kepada mereka. Sepucuk surat untuk disampaikan kepada raja Persia dan sepucuk lagi untuk para gubernurnya. Surat itu dimulai dengan:



Sumber Artikel KLIK DISINI