[ad_1]

loading…

Memutus silaturahmi adalah perkara yang sangat dilarang dalam agama. Foto ilustrasi/ist

Memutus silaturahmi adalah perkara yang sangat dibenci Allah dan dapat menyebabkan seseorang terhalang masuk surga. Berikut kisah orang yang memutuskan silaturahmi dengan kerabatnya diceritakan Ustaz Saeful Huda dalam satu kajiannya.

Kisah ini dapat menjadi iktibar dan pelajaran berharga bagi kita. Dikisahkan, ada seorang yang kaya raya berangkat haji. Sebelum berangkat, ia menitipkan uangnya 10.000 Dinar kepada seseorang yang sudah biasa dipercaya untuk menitipkan barang atau uang.

Setelah selesai menunaikan hajinya, orang kaya itu mendatangi rumah orang yang diberi amanah menyimpan uangnya. Sesampainya di rumah orang itu, ternyata orangnya telah wafat. Orang kaya itu pun bertanya kepada ahli warisnya. Namun, tidak satu di antara ahli warisnya mengetahui perihal uang titipan tersebut.

Orang kaya itu kebingungan dan bertanya-tanya dalam hatinya, di manakah uang yang disimpan orang yang diberi amanah tiu? Ia mendatangi seorang ‘alim di Mekkah lalu menceritakan tentang uangnya tersebut. Orang alim itu berkata: “Di sepertiga malam akhir nanti, pergilah kamu ke Sumur Zamzam, panggillah nama orang yang engkau titipi uang itu di bibir sumur. Jika ia adalah orang yang baik dan termasuk ahli Surga, dia pasti akan menjawab panggilanmu, lalu tanyakanlah kepadanya, di mana ia menyimpan uangmu.”

Pada akhir malam, orang kaya itu pergi mendatangi Sumur Zamzam. Tepat di bibir sumur ia memanggil nama temannya yang ia titipi uang, hingga 3 kali ia panggil, namun tak ada jawaban. Orang kaya itu pun kembali mendatangi orang Alim tersebut lalu menceritakannya.

Orang Alim itu kaget dan berkata: “Innaa Lillahi wa Inna ilaihi Rooji’uun. Jika memang temanmu tidak menjawab, aku takut dia termasuk golongan ahli neraka.” Pergilah ke Yaman, di sana ada sebuah sumur bernama “Barhut”. Dikatakan bahwa sumur itu adalah bibir dari neraka Jahannam.

Datangilah di sepertiga malam akhir, dan panggillah nama temanmu itu”. Orang kaya itu pun pergi ke Yaman, lalu mendatangi Sumur Barhut di sepertiga malam akhir. Ia pun memanggil nama orang tersebut: “Yaa Fulan!” Baru sekali panggilan, tiba-tiba terdengar jawaban dari dalam sumur. Orang kaya itu pun merasa prihatin dengan keadaan temannya itu, lalu bertanya: “Di manakah engkau menyimpan uangku?”.

Dari dalam Sumur terdengar jawaban: “Aku menyimpan uangmu di sini dan di sini, di dalam rumahku, pergilah dan katakan kepada anak-anakku. Kamu akan mendapati uangmu kembali.”

Orang kaya itu bertanya: “Bagaimana bisa engkau tergolong orang ahli neraka?” Bukankah kau adalah orang yang baik dan memiliki sifat amanah?” Orang itu bercerita: “Sesungguhnya aku mempunyai seorang saudari perempuan yang fakir. Lama kami tidak saling tegur sapa, sampai aku meninggal. Inilah yang menyebabkan aku tergolong sebagai ahli neraka. Jika kau mau menolongku, datangilah saudariku itu dan mintakan maaf kepadanya. Ceritakan padanya keadaanku sekarang yang merasakan siksaan karena tidak menyambung silaturrahim dengannya”.

Orang kaya itu pun pergi ke rumah ahli waris temannya itu, lalu menceritakan dimana ayahnya meletakkan harta titipannya. Ternyata benar, uang itu masih utuh. Setelah itu, ia bertanya kepada anak-anaknya di mana rumah bibi mereka? Setelah tahu alamatnya, iapun segera pergi ke rumah saudari perempuan temennya tersebut.

Ketika bertemu, ia menceritakan apa yang dialami saudaranya di alam kubur. Mendengar cerita itu, perempuan itu menangis dan memaafkan saudaranya, lalu ia memohon ampun dan mulai menyambung silaturrahim dengan anak-anak saudaranya.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang putus tali silaturrahim“.

Riwayat lain, beliau bersabda: “Orang yang memutus tali silaturrahim akan mendapat laknat dari Allah, walaupun dia mati di depan Ka’bah”.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga bersabda: “Tidak akan turun Rahmat Allah, kepada satu kaum, jika di dalam kaum itu terdapat satu saja orang yang putus tali silaturrahim.

Orang yang memutus tali silaturrahim, berarti telah putus hubungan dengan Allah. Berarti salatnya bukan untuk Allah, puasanya bukan untuk Allah, zikirnya, dan ibadah-ibadah lainnya bukan untuk Allah. Semoga kita termasuk golongan orang yang senantiasa menyambung silaturahim.

(rhs)

[ad_2]

Sumber Artikel KLIK DISINI