[ad_1]

loading…

Para sahabat Nabi dari golongan Anshar menangis ketika Rasulullah SAW membagikan harta ghanimah. Foto/ilustrasi

KH Ahmad Syahrin Thoriq
Pengasuh Pondok Pesantren Subulana Bontang Kalimantan Timur

Pada suatu hari, Rasulullah ﷺ membagi-bagikan harta ghanimah kepada kaum muslimin dalam sebuah peperangan. Ghanimah adalah harta yang diperoleh dari musuh Islam melalui peperangan yang pembagiannya diatur oleh syariat.

Kala itu Rasulullah ﷺ mengutamakan orang-orang Quraisy dan kabilah-kabilah Arab yang baru saja masuk Islam. Sedangkan orang-orang Anshar (penduduk Madinah) tidak mendapat bagian sedikit pun. Hal ini menimbulkan kasak-kusuk di antara para sahabat Anshar, hingga ada yang berkata, “Rasululllah hanya ingat kaumnya sendiri dan sekarang mulai melupakan kita.”

Hingga sampailah kabar itu kepada Rasulullah ﷺ. Kemudian beliau meminta orang-orang Anshar dikumpulkan di suatu tempat. Setelah mereka berkumpul, Rasulullah berkata kepada mereka: “Wahai orang-orang Anshar, ada kasak-kusuk yang sempat aku dengar dari kalian, dan dalam diri kalian ada perasaan mengganjal kepadaku. Bukankah dulu aku datang kepada kalian, sedangkan kalian dalam keadaan tersesat, kemudian Allah memberikan petunjuk? Bukankah dulu kalian miskin dan bercerai-berai, kemudian Allah memberikan karuniaNya dan menyatukan hati kalian?”

Orang-orang Anshar menjawab: “Begitulah Allah dan Rasul-Nya lebih murah hati dan banyak karunianya.”

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: “Apakah kalian tidak ingin membantahku wahai orang-orang Anshar?”

Mereka pun menjawab: “Dengan apa kami bisa membantahmu wahai Rasulullah? Padahal sungguh, milik Allah dan Rasul-Nya segala anugerah dan karunia.”

Beliau bersabda: “Sebenarnya kalian wahai orang-orang Anshar, demi Allah kalau kalian mau, kalian bisa balik berkata kepadaku, “Engkau dulunya wahai Muhammad datang kepada kami dalam keadaan didustakan kaummu, kami orang-orang Anshar-lah yang membenarkanmu.

Engkau dalam keadaan lemah dan teraniaya, kami-lah yang menolongmu. Engkau dalam keadaan terusir dari negerimu Makkah kami orang-orang Anshar pula yang menampungmu.”

Kemudian suasana menjadi hening. Tidak ada satupun dari kepala yang sanggup tertengadah kepada beliau. Kemudian beliau melanjutkan perkataan: “Apakah dalam hati kalian masih terbersit keduniaan? Yang dengan itu aku hendak melunakkan hati orang-orang yang baru masuk Islam? Sedangkan kepada keimanan kalian aku sudah percaya? Apakah kalian tidak rela orang-orang kembali ke rumahnya dengan membawa domba dan unta, sedangkan kalian kembali dengan membawa Rasul Allah ke tempat tinggal kalian?”

“Sungguh wahai orang-orang Anshar, Demi Dzat yang jiwa Muhammad dalam genggaman-Nya, jika bukan karena adanya Hijrah tentu aku termasuk orang-orang Anshar.”

“Sungguh wahai orang-orang Anshar, jika saja orang-orang selain kalian menempuh satu jalan di celah gunung, dan orang-orang Anshar di celah yang lain, tentu aku akan memilih celah yang ditempuh orang-orang Anshar. Ya Allah rahmatillah orang-orang Anshar, anak dan cucu orang Anshar.”

Mendengar itu seluruh orang-orang Anshar pun menangis sesenggukan hingga jenggot mereka basah oleh deraian air mata. Mereka kemudian berkata, “Ya Rasulullah, Kami ridha kepada engkau dalam masalah pembagian dan bagian.”

Rasulullah ﷺ kemudian meninggalkan mereka dalam keadaan masih menangis. Demikian keadaan orang-orang Anshar sampai beberapa saat, lalu mereka bubar dengan membawa kecintaan dan ketundukan yang makin bertambah kepada Rasulullah ﷺ.

Semoga Allah menanugerahkan kita rasa cinta dan ridha kepada utusan-Nya, kekasih-Nya, penghulu para Nabi, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

(rhs)

[ad_2]

Sumber Artikel KLIK DISINI