loading…

Imam Mohammad Jawad Chirri. Foto/Ilustrasi: Historic Images

Berikut ini adalah dialog Prof Dr Wilson H. Guertin dan Imam Muhammad Jawad Chirri yang dikutip dari buku yang diterjemahkan HM Ridho Umar Baridwan, SH berjudul “Dialog tentang Islam dan Kristen” (Alma’arif, 1981).

Imam Mohammad Jawad Chirri adalah seorang ulama dan dosen , kelahiran Lebanon . Beliau direktur dan Ketua Kerohanian di pusat Islam di Detroit, Amerika Serikat . Sedangkan Prof Dr Wilson H. Guertin adalah Ilmuwan terkemuka dalam ilmu jiwa (psychology).

Berikut petikan dialog tersebut:

Prof Wilson: Sejarah Agama yang mempercayai keesaan Tuhan menunjukkan bahwa semua Nabi-nabi mereka berasal dari golongan Semit dan bahwa sebagian besar dari mereka berasal dari turunan Nabi Ibrahim , kedua-duanya dari anak-anak Ishak atau dari anak-anak Ismail .

Ini dapat dijelaskan sebagai suatu keistimewaan yang mana Israelites dan Ishmaelites diistimewakan dari manusia-manusia yang lain. Tetapi hal ini sangat sukar untuk diterima bahwa Tuhan akan menjadikan hanya dua kelompok masyarakat ini yang mendapat pesan.

Tuhan adalah Tuhan untuk seluruh bangsa dan pesan-pesanNya akan disampaikan pada bangsa yang lain. Bila sejarah Agama teliti, harus ada beberapa alasan untuk memisahkan kenabian pada dua kelompok masyarakat ini.

Imam Chirri: Sejarah manusia menunjukkan pada kita bahwa pengertian manusia pada mula-mulanya tidak luas dan tak sanggup menciptakan cita-cita yang tinggi dan universil.

Di dalam menghormati hubungan-hubungan manusia, manusia perorangan agaknya memberi hak istimewa pada famili yang lebih dekat dengan cintanya dan sanak saudaranya dengan persaudaraannya.

Semua suku-bangsa yang lain dari dia adalah asing atau orang yang bukan orang Yahudi. Kebangsaan dan pengertian kemanusiaan jarang mengambil bagian pada pemikirannya.

Akan tetapi, beberapa orang yang telah mendapat anugerah, hidup di antara rakyatnya dan sanggup mengerti secara mendalam dan membatasi nafsu dan siap mengambil pertanggungan jawab sebagai pimpinan dan pengajar.

Mengetahui kesanggupan mereka yang luar biasa kebanyakan orang-orang yang murah-hati itu membuktikan pada mereka kebenaran dan memerintahkan mereka dengan tugas yang terkeras, yaitu tuntutan peri kemanusiaan.

Individu-individu ini dipilih atas azas-azas/jasa-jasa mereka sendiri, tidak atas dasar hubungan mereka pada bangsa atau masyarakat.

Seperti yang diharapkan, individu-individu ini dihadapkan dengan kesulitan-kesulitan yang tak dapat diatasi. Rakyat tidak bersedia untuk mengikuti atau menerima ajaran-ajaran mereka dan kebanyakan dari mereka seperti Nuh yang memperoleh pengikut yang sangat sedikit, atau seperti Ibrahim yang hidup sebagai Nabi tanpa pengikut. Karena masyarakat menolak perubahan, diduga bahwa seorang Nabi seperti Ibrahim telah diperlukan mencoba untuk mencapai kelancaran Agamanya melalui anak-anaknya, Ismail dan Ishak, yang setia mengikuti kepercayaan ayahnya dan menyampaikannya pada anak-anak mereka.

Kelanjutan ajaran Agama yang dikembangkan secara sempit melalui garis kesukuan. Abad-abad telah berlalu, dan kepercayaan tidak memperoleh pengikut, baik dan luar maupun turunan-turunan Ibrahim.

Maksud yang sangat baik, akan tetapi tidak memperoleh kepercayaan dalam suku atau bangsa. Yang Pengasih dan Penyayang merencanakan untuk mengembangkan kepercayaan untuk seluruh dunia dan menunjukkan pada seluruh manusia tentang kebenaran. Yang Maha Kuasa mengatur alam semesta melalui kelaziman dan tujuan-tujuan natural yang menyingkapkan seluruh kejadian di alam sebagai sebab dan akibat.

Dia melindungi kepercayaan dan menjaga tetap hidup, meskipun pada suatu perhatian, melalui masyarakat yang kecil, yang dianugerahi oleh warisan kepcrcayaan itu dari ayah yang suci. Dia menyebabkan bahwa kepercayaan berkobar dan mengembang bila masyarakat tumbuh dan mempunyai kekuatan yang cukup untuk tugas besar perluasan kepercayaan.

Masyarakat kecil itu dimaksudkan menumbuhkan melalui dua arah, Ishmaelite dan Israelite.



Sumber Artikel KLIK DISINI