[ad_1]

loading…

Seluruh jin merupakan keturunan dari Iblis. Adapun Jin yang kafir disebut dengan setan, dan inilah makhluk yang kerap menggangu dan menyesatkan umat manusia dengan tipu dayanya. Foto ilustrasi/ist.

Jin adalah salah satu makhluk ciptaan Allah yang tersembunyi dan tidak dapat dilihat oleh kasat mata. Jin memiliki alam dan dunia yang berbeda dari manusia.

Istilah Jin berasal dari Bahasa Arab yang terdiri dari tiga huruf yaitu huruf Jim (ج), Nuun (ن), dan Nuun (ن). Menurut para pakar bahasa, ketiga huruf di atas mengandung arti ketersembunyian atau ketertutupan. Dalam Al-Qur’an setidaknya ditemukan lima kata yang sering digunakan untuk menunjukan makhluk halus dari golongan jin, yaitu kata Jin (ﺟﻦ); Jan (ﺟﺎن): Jinnah (ﺟﻨّﺔ): Iblis (إﺑﻠﯿﺲ ), dan syaithan (ﺷﯿﻄﺎن).

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَخَلَقَ الۡجَآنَّ مِنۡ مَّارِجٍ مِّنۡ نَّارٍ‌ۚ

Artinya: “Dan Dia menciptakan jin dari nyala api tanpa asap.” (QS ar-Rahman Ayat 15)

Sebagai makhluk ciptaan Allah, Jin diciptakan untuk beribadah kepada Allah sama halnya seperti manusia. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡاِنۡسَ اِلَّا لِيَعۡبُدُوۡنِ

Artinya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Az-Zariyat Ayat 56)

Dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan jin, Imam Nawawi Al-Bantani dalam Kajian Tematik Dalam Tafsir Marah Labid menjelaskan bahwa jin adalah makhluk yang Allah ciptakan dari api murni yang tak berasap yang dibebani kewajiban (taklif) sama seperti halnya manusia.

Imam Nawawi juga menginformasikan bahwa jin itu ada golongan sunni, ada yang syi’ah, ada yang murji’ah, qadariyah, rafidhah, dan khawarij. Selain itu, jin memiliki kemampuan mengarungi angkasa, ahli dalam bidang bangunan dan penyelaman, mampu bergerak dan berpindah dengan cepat, dan dapat berubah wujud.

Bahkan dalam Al-Qur’an diceritakan bahwa sekelompok Jin pernah masuk Islam setelah mendengar bacaan Al-Qur’an Rasulullah ﷺ.

Permintaan Jin yang Dikabulkan Allah
Syaikh Badruddin bin Abdullah as-Syibly dalam kitabnya berjudul “Ajaib wa Gharaib al-Jin” mengatakan bahwa Allah menciptakan jin 2.000 tahun sebelum menciptakan Adam dan keturunannya. Jin didaulat tinggal dan mengurus bumi. Sedangkan para Malaikat, menghuni langit dengan kualitas iman dan amal saleh yang jauh di atas bangsa Jin.

Ketika Allah menciptakan Jin, mereka menyampaikan beberapa permintaan sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Ketika Allah menciptakan Bapak Jin bernama Saum dari api yang berkobar-kobar, Allah berkata kepadanya: “Katakan permintaanmu!” Saum menjawab: “Kami meminta kepada-Mu agar kami dapat melihat tetapi kami tidak mampu dilihat, kami sirna di bintang Tsura, dan kami tidak mati kecuali kami dalam kondisi muda seperti anak kecil.”

Kemudian Allah mengabulkan permintaannya. Al-Baqilani mengatakan bahwa Allah telah menjadikan penciptaan Jin sebagai jisim-jisim dalam bentuk yang bermacam-macam. Ia makan, minum, dan menikah, seperti yang dilakukan oleh manusia.

Hanya saja, proses keturunan jin dibandingkan dengan manusia adalah 9:1. Setiap kali jin melahirkan maka mengeluarkan 9 anak. Pendapat masyhur mengatakan bahwa seluruh jin merupakan keturunan dari Iblis. Oleh karena itu, jin bukan berasal dari jenis Malaikat.

Ada yang mengatakan bahwa jin adalah jenis, sedangkan Iblis adalah salah satu dari jenis tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa jin merupakan keturunan dari Iblis berdasarkan keterangan Al-Qur’an. Adapun Jin yang kafir disebut dengan “setan”.

Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan manusia supaya tidak terperdaya dengan tipu daya setan. Berikut firman-Nya:

Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-A’raf Ayat 27)

Untuk diketahui, setan dan pengikutnya turun temurun terus memusuhi anak-cucu Adam. Dia senantiasa mengintip dan memperhatikan, di mana ada kelemahan mereka, di sanalah dia memasukkan jarumnya sebagai godaan dan tipuan. Dialah musuh yang sangat berbahaya karena dapat melihat manusia, sedang kita tidak dapat melihatnya.

Setan lebih berbahaya dari musuh biasa yang dapat dilihat secara lahiriah. Dia juga dapat mengalir dalam tubuh manusia seperti mengalirnya darah.

[ad_2]

Sumber Artikel KLIK DISINI