loading…

Orang-orang Arab yang mendirikan kota Anbar dan Hirah di Irak adalah para tawanan perang Raja Nebukhadnezzar II. Ilustrasi: Ist

Sebagian ahli sejarah berpendapat orang-orang Arab yang mendirikan kota Anbar dan Hirah di Irak adalah para tawanan perang Raja Nebukhadnezzar II.

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul “Abu Bakr As-Siddiq” yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah (PT Pustaka Litera AntarNusa, 1987) mengatakan para tawanan itu ditempatkan di Pantai Furat yang kemudian membangun kota Anbar itu. “Setelah kemudian mereka dipindahkan dari Anbar ke selatan, mereka mendirikan kota Hirah,” ujarnya.

Haekal juga menyebut versi lain. Menurut para sejarawan, kaisar Romawi , Philip, adalah orang Arab dari Banu Samaiza’, orang Arab pertama yang pindah ke Syam yang pernah dikenal sejarah.

“Sebelum menaiki takhta kekaisaran dia adalah pemimpin bandit, meminjam istilah orang Barat, dan pemimpin kabilah yang suka berperang, menurut istilah orang Arab,” katanya.

Ini merupakan kedudukan orang Arab tertinggi yang tinggal di Syam, kendati tak sampai mereka meninggalkan nilai-nilai daerahnya di pedalaman dan melebur ke dalam peradaban Romawi.

Adapun orang-orang Arab yang tinggal di perbatasan Irak, mereka menetap di pedalaman dan tak mau mempertaruhkan diri masuk ke daerah Sungai Furat, supaya jangan berada di bawah kekuasaan Persia .

Mereka bertahan dengan keadaan mereka sampai pada waktu Persia menjadi ajang pemberontakan dan perang saudara, yang menyebabkan raja-raja Persia akhirnya berhubungan dengan pemimpin-pemimpin golongan di sana.

Mereka ini akhirnya memperoleh kemenangan dan mampu menguasai Persia. Mereka masing-masing mendapat bagian. Ini memberi kesempatan kepada pihak Arab memasuki daerah Furat. Di pantai sungai ini mereka mendirikan kota Anbar, kemudian mendirikan kota Hirah.

“Bukan tidak mungkin kabilah-kabilah Arab itu berasal dari tawanan-tawanan perang yang dibawa oleh Persia ketika pertama kali mereka menyerang bagian selatan Semenanjung Arab itu,” tutur Haekal.

Jazimah al-Abrasy

Mana pun sumber itu yang benar, kata Haekal, yang jelas sejak itu kekuasaan Arab mulai stabil di Irak. “Mereka sudah mengurus sendiri bagian barat Furat antara Anbar dengan Hirah ketika Jazimah al-Abrasy atau al-Waddah memimpin mereka sekitar tahun 215-268 M,” ujarnya.

Jazimah telah mempersatukan mereka dan kekuasaannya meluas dari Hirah ke Anbar sampai ke Ain at-Tamr. Dengan demikian mencakup juga seluruh bagian barat Furat sampai ke pedalaman Syam. Bahkan kekuasaan itu meluas sampai kepada orang-orang Arab yang tinggal di pedalaman ini tatkala Mudar menyerang penghuni-penghuni itu, dengan merangkul Adi bin Rabi’ah dan ia ditempatkan sebagai orang yang dihormati.

Adi inilah yang mengawini ar-Raqqasy saudara perempuan Jazimah. Kedua tokoh ini banyak menghiasi karya-karya sastra dengan cerita yang sangat menarik. Dari dia kemudian lahir Amr bin Adi, yang terkenal karena ceritanya dengan az-Zaba’ yang bunuh diri sambil berkata: “Di tanganku, bukan di tangan Amr.”

Uzainah bin as-Samaiza’

Sementara Jazimah al-Waddah menjadi raja Arab di Irak Uzainah bin as-Samaiza’ menjadi pemimpin Arab di Syam. Ketika itu Shapur (Sabur) adalah penguasa Persia dan Philip Kaisar Romawi.

Penduduk Syam memberontak kepada Philip karena hukum yang dijalankannya sangat keras. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Shapur. Ia menyerbu Syam dan berhasil mengalahkan pasukan Romawi.

Ketika itulah Uzainah salah seorang sekutunya memberontak kepada Romawi dan bergabung dengan Persia. Ambisinya ingin berada di bawah Shapur supaya ia dijadikan wakilnya di Syam seperti Jazimah di Irak. Tetapi kemudian Valerian yang menjadi kaisar Romawi menggantikan Philip.



Sumber Artikel KLIK DISINI