loading…

Tawasul berarti mengerjakan suatu amal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bisa juga bermakna doa yang dipanjatkan dengan perantara nama seseorang yang dianggap suci dan dekat pada Allah SWT. Foto ilustrasi/SINDOnews

Tawasul dalam masyarakat Indonesia dikenal sebagai bacaan yang dilantunkan sebelum bacaan tahlil dimulai. Membuat bacaan ini seakan menjadi pembuka dari rangkaian tahlil.

Dengan melantunkan bacaan tawasul dipercaya akan membuat bacaan tahlil , tasbih, tahmid, takbir dan doa akan sampai pada ahli kubur.

Meski begitu, masih banyak yang belum mengerti apa itu tawasul beserta jenis, hukum dan doa yang harus dipanjatkan.

Pengertian Tawasul

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Tawasul berarti mengerjakan suatu amal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bisa juga bermakna doa yang dipanjatkan dengan perantara nama seseorang yang dianggap suci dan dekat pada Allah SWT.

Dalam buku “Pro Kontra Tawassulan” karya Isnan Ansory, menjelaskan jika kata tawasul diambil dari bahasa Arab yakni, tawassala-yatawassalu-tawassulan yang memiliki arti dasar mendekat dengan menggunakan wasilah. Sementara wasilah adalah media perantara untuk mencapai tujuan.

Sehingga tawasul dapat dimaknai sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah swt dalam bentuk doa atau ibadah lainnya, dengan menggunakan perantara lain, seperti Asmaul Husna.

Jenis Tawasul

Kiai Wazir yang merujuk pada beberapa kitab tafsir menyampaikan macam-macam tawasul dengan mengacu pada surat Al Maidah ayat 35:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya (wasilah) dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kalian mendapat keberuntungan”.

1. Tawasul dengan nama Allah

Tawasul dengan nama Allah atau Tawasul bi nasmaillah ini adalah yang paling tinggi. Misalnya, a’ûdzu biqudratillah, a’udzu bi izzatillah dan yang lainnya. Tawasul ini juga bisa dilakukan dengan menyebut asmaul husna, baik itu secara lengkap ataupun sebagian atau tawasul dengan ismul a’dham.

2. Tawasul dengan amal yang baik

Tawasul bi a’mal shalihat dijelaskan Kiai Wazir dengan kisah 3 orang sahabat dalam kitab Riyadhus Shalihin. Mereka kemudian muhasabah, berdoa dan bertawasul dengan perbuatan birrul walidain (berbuat baik kepada orang tua).

3. Tawasul dengan orang-orang saleh

Tawasul bis shalihin baik masih hidup atau sudah meninggal. Diceritakan dalam hadits shahih, ada salah satu sahabat buta yang ingin bisa melihat yang bertawasul hingga akhirnya dapat kembali melihat.

4. Tawasul dengan dzat

Tawasul bi dzat ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti bi jahi (dengan kedudukan), bi hurmati (dengan kemuliaan), bi karamati (dengan kemurahan). Shalawat Nariyah merupakan tawassul bi dzat.

Hukum Tawasul

Karena merupakan salah satu rangkaian dari tahlil, hukum tawasul ini bisa disamakan dengan hukum tahlil. Dalam hal ini mayoritas ulama khususnya Syafiiyyah, Hanafiyyah, Hanabila (Hambali) dan kalangan mutaakhirin Malikiyah menilai bidah idhofiyah yang tidak dipraktikkan Nabi SAW.

Bacaan Tawasul Singkat

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Artinya : “Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang”

اِلَى حَضَرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَاَلِهِ وَاَزْوَا جِهِ وَاَوْلاَ دِهِ وَذُرِّيَّا تِهِ الْفَتِحَةْ

Ilaahadharatin nabiyyil musthofaa shollallahu ‘alaihi wa sallam, wa aalihi wa azwajihii wa aulaadihi wa dzurriyyatihi. Al fatihah. (Dilanjutkan dengan Al-Fatihah)

Artinya : “kepada yang terhormat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terpilih, kepadanya segenap keluarga para istri dan anak cucu beliau, bacaan al fatihah kami tujukan untuk beliau…”

اِلَ حَضَرَاتِ اِخْوَا نِهِ مِنَ الْاَنْبِيَاءِ وَ الْمُرْسَلِيْنَ وَالْاَوْلِيَاءِ وَاَلشَّهَدَاءِ وَاَلصَّا لِحِيْنَ وَاَلصَّحَا بَةِوَ التَّا بِعِيّنَ وَالْعُلَمَاءِ الْعَا مِلِيْنَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَ جَمِيْعِ الْمَلَئِكَةِ الْمُقَرَّ بِيْنَ خُصُوْصًا سَيِّدِنَا الشَّيْخِ عَيْدِ الْقَادِرِا لْجَيْلَا نِى . الْفَاتِحَةْ

Ilaa hadhorooti ikhwaanihi minal anbiyaa’i wal mursaliina wal auliyaa’i wash syuhadaa i wash shoolihiina wash shohaabati wat taabi’iina wal ulamaa’il aamiliina walmushonni final mukh’lishina wa jamii il malaa ikatil muqorrobiina khusuushon sayyidinaa asy syaikhi abdil qoodiril jailaani. (Dilanjutkan dengan Al-Fatihah)

Artinya : “Kepada yang terhormat para handai taulan dari para nabi dan rasul, para wali, para syuhada’, orang orang saleh, para sahabat, para ulama yang mengamalkan ilmunya, para pengarang yang ikhlas dan kepada segenap malaikat yang mendekatkan diri kepada Allah, terutama kepada penghulu kita syaikh Abdul Qadir Jailani”.

ثُمَّ اِلَي حَضَرَاتِ اِخْوَا نِهِ مِنَ الْاَنْبِيَاءِ وَ الْمُرْسَلِيْنَ وَالْاَوْلِيَاءِ وَاَلشَّهَدَاءِ وَاَلصَّا لِحِيْنَ وَاَلصَّحَا بَةِوَ التَّا بِعِيّنَ وَالْعُلَمَاءِ الْعَا مِلِيْنَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَ جَمِيْعِ الْمَلَئِكَةِ الْمُقَرَّ بِيْنَ خُصُوْصًا سَيِّدِنَا الشَّيْخِ عَيْدِ الْقَادِرِا لْجَيْلَا نِى . الْفَاتِحَةْ

Tsumma ilaa hadhorooti ikhwaanihi minal anbiyaa’I wal mursaliina wal auliyaa’I wash syuhadaa I wash shoolihiina wash shohaabati wat taabi’iina wal ulamaa’il aamiliina walmushonni final mukh’lishina wa jamii il malaa ikatil muqorrobiina khusuushon sayyidinaa asy syaikh abdul qoodiril jailaani. Al Fatihah.

Artinya : “Kemudian kepada yang terhormat para handai taulan dari para nabi dan rasul, para wali, para syuhada’, orang-orang saleh, para sahabat, para ulama yang mengamalkan ilmunya, para pengarang yang ikhlas dan kepada segenap malaikat yang mendekatkan diri kepada Allah, terutama kepada penghulu kita syaikh Abdul Qadir Jailani.”

اِلَى جَمِيْعِ اَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنَا لْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْ مِنَاتِ مِنْ مَشَارِ قِالْاَرْضِ وَمَغَا رِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِ هَا خُصُوصًا اَبَاءَ نَاوَ اُمَّهَا تِنَا وَاَجْدَا دَنَاوَ جَدَّا تِنَا وَمَشَا يِخَنَا وَمَشَا يِخَ مَشَا يِخِنَا وَاَسَا تَذَةِ اِسَاتِذَ تِنَ (وَحُصُوْصًا اِلَى الرُّحِ …) وَلَمِنِ اجْتَمَعْنَا هَهُنَا بِسَبَبِهِ . الْفَتِحَةْ

laa jamii’ii ahlil qubuuri minal muslimiina wal muslimaati walmu’miniina walmu’minaati min masyariqul ardhi wa maghooribihaa barrihaa wa bahrihaa khususon aabaa anaa wa umma haatinaa wa ajdaadanaa wa jaddaatinaa wa masyaayikhonaa wa masya ayikho masyaayikhinaa wa asaatidzatinaa wa khushuushoon ilarruhi (…) wa limini ijtamai naa haa hunaa bi sababihi. Al-Fatihah.



Sumber Artikel KLIK DISINI