Rasulullah SAW diperjalankan Allah SWT pada malam hari  (Isra’) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dengan menggunakan buraq. Dalam sebuah riwayat dijelaskan  burqa warnanya putih, larinya cepat, ukurannya tidak lebih besar dari keledai dan lebih besar dari bighal. Sebenarnya, Allah bisa saja langsung memperjalankan Nabi Muhammad tanpa menggunakan kendaraan. Tetapi kenapa Allah menyediakan buraq untuk Nabi Muhammad?

Para Ulama menjelaskan, Allah SWT menciptakan buraq sebagai kendaraan Rasulullah untuk menunjukkan kekuasaan-Nya. Ini sama saja halnya, kalau kita diundang presiden ke istana, kemudian dia menyediakan mobil dan ajudan untuk menjemput kita, secara tidak langsung, fasilitas yang diberikan ini menunjukkan kekuasaan dan kemuliaan seorang presiden. Semakin bagus dan mewah fasilitasnya, semakin takjub pula orang yang dijemput atau masyarakat yang melihatnya dengan kuasa seorang presiden.

Dalam perjalanan menuju Masjidil Aqsha, Rasulullah diminta Malaikat Jibril untuk singgah di empat tempat. Jibril menyuruh Rasulullah untuk shalat di masing-masing tempat tersebut. Keempat tersebut adalah Madinah, yang kemudian menjadi tempat hijrah Rasulullah; Madyan, tempat Nabi Musa menghindar dari kejaran Firaun; Turshina, tempat Nabi Musa menerima wahyu dari Allah; Bethelhem (bait al-lahm), tempat kelahiran Nabi Isa.Peristiwa ini menunjukkan bahwa Nabi sebelum Isra’-Mi’raj sudah mengerjakan shalat. Hanya saja praktiknya tidak seperti shalat lima waktu yang diperintahkan Allah SWT ketika Isra’-Mi’raj.

Sesampai di Masjidil Aqsa, Rasulullah mengikat buraq di tempat yang sama di mana para Nabi sebelumnya mengikat hewan tunggangannya. Nabi dan Jibril shalat dua raka’at di Masjidil Aqsa. Dalam waktu yang singkat, para Nabi dan Rasul yang lain juga ikut shalat bersama Nabi Muhammad. Setelah itu, ada yang mengumandangkan azan untuk shalat berjamaah, tiba-tiba Jibril memegang tangan Nabi Muhammad, menggiringnya ke depan untuk menjadi imam shalat.

Nabi Muhammad kemudian diangkat ke langit (mi’raj) tanpa menggunakan buraq menurut mayoritas ulama. Di sana Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam di langit pertama, bertemu dengan Nabi Isa di langit kedua, bertemu dengan Nabi Yusuf di langit ketiga, Nabi Idris di langit ke empat, bertemu Nabi harun di langit ke lima, bertemu kembali dengan Nabi Musa di langit ke enam. Barulah saat sampai ke langit ketujuh nabi bertemu Nabi Ibrahim.

Dalam pandangan Gus Baha, Isra’-Mi’raj tidak sebatas penghibur Rasulullah, tetapi juga sebagai bentuk perjalanan intelektual Rasulullah. Kalau diperhatikan perjalanan Rasulullah selama Isra’ Mi’raj, beliau kerap kali diajak untuk napak tilas Nabi dan Rasul sebelumnya, dan bertemu langsung dengan Nabi dan Rasul sebelumnya. Ini sekaligus menunjukkan bahwa Nabi Muhammad memiliki keterhubungan ajaran dengan Nabi dan Rasul sebelumnya.

Kenapa keterhubungan ini penting diperlihatkan?  Sebab dulu orang Yahudi kerapkali menyebarkan mitos bahwa Nabi dan Rasul itu mesti dari Palestina dan keturunan Bani Israil. Tak heran bila Palestina diistilahkan juga dengan kota para Nabi, karena banyaknya Nabi dan Rasul yang lahir dan tumbuh di negeri ini. Rasulullah juga kerapkali ditanya dan diajak diskusi terkait Nabi dan Rasul sebelumnya. Dengan adanya peristiwa Isra’-Mi’raj, Rasulullah bisa dengan mudahnya menjelaskan semua itu, termasuk bagaimana bentuk bangunan Masjidil Aqsa, dan lain-lain.

 



Sumber : Islami.co