loading…

Hassan Khalil, 40, dan istrinya yang sedang hamil, Tahrir, 35, mengatakan mereka hidup dalam ‘kondisi tragis’ dengan kelima anak mereka (Abdelhakim Abu Riash/Al Jazeera)

Warga Palestina di Gaza mengatakan mereka sangat terpukul dengan keputusan Mahkamah Internasional (ICJ). Mahkamah tidak memerintahkan Israel menghentikan pemboman dan invasi darat selama hampir empat bulan di jalur tersebut. Afrika Selatan yang menuduh Israel melakukan genosida mengajukan masalah ini ke ICJ.

Pengadilan gagal memerintahkan gencatan senjata segera atau mendesak Israel menghentikan semua aktivitas militer di wilayah tersebut.

Al Jazeera melaporkan banyak orang di Gaza mengatakan mereka kecewa, namun tidak terkejut. Mereka mengatakan mereka tidak mempercayai komunitas internasional, atau sistem peradilan global, karena mereka sejauh ini gagal mengakhiri pertumpahan darah di wilayah kantong tersebut.

Serangan militer dan blokade di Jalur Gaza khususnya berdampak pada perempuan hamil di Gaza, banyak dari mereka terpaksa melahirkan dalam kondisi berbahaya dan tidak sehat di tengah runtuhnya sektor kesehatan.

Tahrir Sheikh Khalil adalah salah satu dari ribuan wanita yang sedang hamil di tengah kekurangan makanan dan air bersih. Dia sekarang tinggal di tenda dekat Rumah Sakit Syuhada al-Aqsa, bersama suami dan lima anaknya.

Suaminya mendengarkan putusan ICJ pada hari Jumat. Sesaat sebelum putusan dijatuhkan, Khalil mengatakan suaminya “optimistis”, namun kenyataannya tidak.

“Saya tidak optimis tentang apa pun,” kata pria berusia 35 tahun yang melarikan diri dari kamp pengungsi Shati kepada Al Jazeera.

Suaminya, Hassan Khalil, 40 tahun, berharap dia bisa segera kembali ke Kota Gaza jika ICJ memerintahkan gencatan senjata segera.

“Kami mengungsi ke lima tempat sebelum berakhir di sini. Pertama, ke sekolah-sekolah UNRWA di pusat kota, lalu ke kawasan al-Maghazi, lalu ke kawasan di Jalan Maghazi, dan sekarang kami berada di sini di Deir al-Balah,” kata Tahrir.

“Apa yang terjadi tidak akan mengubah penderitaan kami. Perang, pembunuhan, dan kehancuran akan terus berlanjut,” tambahnya.

Pasangan ini menyuarakan sentimen yang sama dari semua orang di sekitar mereka, dengan mengatakan, “Kami tidak ingin mereka membawa bantuan.” Mereka sekali lagi menyerukan gencatan senjata yang langgeng.

“Kami hidup dalam kondisi yang tragis di sini dan kami tidak dapat terus hidup dalam kondisi seperti ini,” kata Hassan.

“Kami tidak memiliki siapa pun yang mendukung kami. Tidak ada yang bisa menghentikan Israel, tidak ada keputusan pengadilan atau resolusi PBB. Selama AS mendukung Israel, kami akan terus menderita,” ujarnya.

Amerika Serikat terus memberikan bantuan militer yang menjadi andalan Israel untuk melanjutkan serangannya. AS juga memberikan dukungan diplomatik, dan memveto beberapa resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata di Gaza.

“Seluruh dunia menyetujui pemusnahan kami. Itulah intinya,” kata Tahrir.

(mhy)



Sumber Artikel KLIK DISINI