[ad_1]

loading…

Hasbara, bukan sekadar buzzer. Foto/Ilustrasi: Ist

Kementerian Urusan Diaspora dan Pemberantasan Antisemitisme atau The Diaspora Affairs and Combating Antisemitism Ministry menginvestasikan NIS 10 juta atau Rp39,7 miliar (1 shekel + Rp3.970) untuk memenangkan perang di media, termasuk membayar buzzer .

Dukungan para artis dan influencer terhadap Israel di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia, ditengarai tidak lepas dari campur tangan negeri Yahudi itu. Kampanye Israel di berbagai media di seluruh dunia itu dikenal dengan sebutan “hasbara”.

Jerusalem Post melaporkan kampanye hasbara global perlu dilakukan bertujuan untuk mendorong organisasi dan perusahaan di seluruh dunia untuk terlibat dalam advokasi bagi Israel. “Masalah ini diperluas dalam waktu dekat agar perusahaan dan organisasi tersebut dibayar karena memiliki sukarelawan yang bekerja di hasbara atas nama mereka,” ujar Jerusalem Post.

“Keberhasilan dalam perang bergantung pada komponen ini. Tidak ada alternatif selain kemampuan sipil di sini dan di media sosial. Ini adalah salah satu bidang yang paling kritis saat ini,” ujar pejabat kementerian tersebut.

CEO Gitam Media Group, Ido Har-Tov, mengatakan perusahaannya telah menyiapkan ruang berkapasitas 200 orang yang berfokus pada pembuatan konten hasbara.

“Kami mulai membuat antara 40 dan 50 video sehari,” katanya. “Kami memiliki puluhan juta penayangan. Kami bisa menjadi alat paling signifikan bagi negara ini dalam hasbara.”

Ella Keinan juga sibuk dengan hasbara sejak awal perang. Sejak 7 Oktober, kontennya telah ditonton lebih dari 80 juta kali.

“Tujuan kami adalah menjelaskan kepada orang-orang bagaimana mereka dapat melakukan [hasbara] sendiri dan menjelaskan bagaimana mereka membantu kami menjadi viral,” katanya. “Negara ini, dengan segala kerumitannya, tidak memiliki alat untuk menangani perlawanan ini. Hal ini perlu dilakukan di tingkat sipil.”

“Saat ini, akan ada tanggapan dari Diaspora Yahudi karena mereka sendiri yang merasakan dampak buruknya dan melihat Eropa dan Amerika saat ini,” pungkas Elkin. “Kami dapat dengan mudah mengenali orang-orang yang ingin segera berinvestasi di bidang ini.”

(mhy)

[ad_2]

Sumber Artikel KLIK DISINI