Tidak ada penjelasan pasti dan jelas terkait kapan terjadinya Isra’ dan Mi’raj dalam al-Qur’an dan hadis. Sejarawan Islam pun berbeda pendapat tentang hal ini. Ada yang berpendapat Rasulullah Isra’ dan Mi’raj 1 tahun sebelum hijrah ke Madinah. Ada pula yang mengatakan 5 tahun sebelum hijrah. Begitu pula dengan bulan kejadiannya, sebagian pendapat menyebut bulan Ramadhan, Rabiul Awal, dan Rajab. Meskipun tidak diketahui waktu pastinya, seluruh ulama sepakat bahwa Isra’ dan Mi’raj itu pernah terjadi di masa Nabi Muhammad, dan orang yang mengingkari kejadian Isra’ dan Mi’raj itu sama saja dengan menolak kebenaran al-Qur’an, sebab peristiwa agung ini disebutkan secara jelas dalam surat al-Isra’ ayat 1.

Isra’ dan Mi’raj tidak terjadi begitu saja. Sebelumnya diawali dengan berbagai macam peristiwa untuk menguji Rasulullah SAW. Di antara ujian yang diberikan pada Rasulullah sebelum Isra’ dan Mi’raj adalah beliau kehilangan dua orang yang sangat dicintai: Khadijah dan Abu Thalib. Khadijah merupakan sosok yang senantiasa mendukung dakwah Rasulullah. Orang yang selalu menjadi penenang dan penghibur di saat Rasulullah cemas dan gelisah. Demikian pula dengan Abu Thalib, ia termasuk orang yang berada di garis depan dalam membela perjuangan Rasulullah, khususnya membentengi Rasulullah dari serangan dan celaan kafir Mekah.

Keduanya meninggal dalam tahun yang sama. Sejarawan menyebut tahun ini sebagai ‘amul huzni, tahun kesedihan. Tidak cukup kehilangan kedua orang yang disayangi, Rasulullah juga diberikan ujian penolakan penduduk Thaif. Disebutkan dalam sejarah, Rasulullah hijrah ke Thaif bersama Zaid bin Haritsah. Sesampai di sana,  penduduk Thaif menolak dakwah Rasulullah. Mereka menghina dan melempar Rasulullah dengan batu. Kejadian ini pun memancing Malaikat Jibril untuk menawarkan bantuan kepada Nabi Muhammad SAW.

Malaikat meminta Rasul untuk berdoa supaya penduduk Thaif diberi Azab atas perbuatan yang sudah mereka lakukan. Saking sayangnya terhadap umatnya, Rasulullah menolak permintaan Jibril tersebut. Beliau bersabda:

إن الله لم يبعثني طعانا ولا لعانا، ولكن بعثي داعيا ورحمة، اللهم اهد قومي فإنهم لا يعلمون

Artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak mengutusku untuk menjadi orang yang merusak, dan juga tidak untuk menjadi orang yang melaknat. Akan tetapi, Allah SWT mengutusku untuk menjadi penyeru doa dan pembawa rahmat. Ya Allah, berilah hidayah untuk kaumku. Sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR: Al-Baihaqi)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah berdoa:

“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku di hadapan hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maharahim, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Tuhan pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan nasibku? Kepada orang jauhkah yang berwajah muram kepadaku atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli sebab sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan karena itu yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat dari kemurkaan-Mu dan yang akan Engkau timpakan kepadaku. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha kepadaku. Dan, tiada daya upaya melainkan dengan kehendak-Mu.”

Syekh Sya’rawi dalam kitab al-Isra’ wal Mi’raj menjelaskan, Allah SWT menciptakan ujian ini tentu ada hikmahnya, salah satunya untuk menunjukkan kepada kita bahwa segala sesuatu itu ada prosesnya. Bisa saja Allah membantu Rasulullah secara langsung, atau menciptakan Isra’ Mi’raj tanpa ada ujian sebelumnya, ini sangat mungkin dan tidak mustahil. Akan tetapi, dengan adanya ujian seperti ini, kita bisa memahami bahwa Rasulullah sekalipun itu diuji oleh Allah SWT, apalagi kita manusia biasa.

Karenanya, ketika diuji Allah SWT, jangan membuat kita putus asa. Kita harus tetap optimis dan yakin seperti yang sudah dicontohkan Rasulullah. Semoga dengan ujian yang diberikan Allah, membuat kita semakin dekat dan tunduk pada Allah SWT.



Sumber : Islami.co