Harakah.idKeberhasilan Umi menjadi pemimpin sebuah pesantren menandakan bahwa seorang perempuan dapat menjadi pemimpin yang sukses.

Kepemimpinan seorang perempuan masih dianggap nulayani ‘adat (sesuatu yang tidak lazim atau biasa terjadi). Alam bawah seseorang, selalu berfikir bahwa pemimpin pesantren adalah seorang laki-laki karena di Indonesia sendiri, populasi terbanyak sebuah pesantren dipimpin oleh laki-laki. Namun, tak menutup kemungkinan kepemimpinan pesantren dipimpin oleh seorang perempuan seperti Nyai Umi Waheeda.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan di Indonesia yang asli atau indegenous. Menurut Gus Dur memaknai pesantren ialah sebuah tempat tinggal santri untuk belajar di bumi Nusantara. Gus Dur pernah berkata bahwa perempuan dan laki-laki memiliki derajat yang sama karena mendasari pada konsep al-kulliyah al-khams (lima prinsip umum) yang ada dalam Islam yaitu, hak dasar bagi keselamatan fisik, hak keselamatan keyakinan, kesucian keturunan dan keselamatan keluarga, hak keselamatan milik pribadi, dan hak keselamatan profesi atau pekerjaan sehingga perbedaan gender bukanlah suatu hal yang diperdebatkan.

Baca juga: Kecerdasan Siti Aisyah Yang Memecah Kebekuan Intelektualitas Perempuan

Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pendidikan, melainkan atmosfer dakwah agama, tempat bersosialisasi bermasyarakat, serta media seleksi budaya (agent of social control). Pesantren telah mengakar sehingga tergolong lembaga yang sangat tua bagi masyarakat Indonesia. Dalam https://dataindonesia.id/ menyebutkan bahwasanya Kementrian Agama (Kemenag) mencatat jumlah pesantren di Indonesia berjumlah 26.975 unit hingga April 2022 dan daerah paling banyak di Jawa Barat.

Biasanya ketika seorang pimpinan (kiai) meninggal, yang menggantikan tahta ialah putranya. Namun di Indonesia banyak juga yang menggantikan kekuasaan adalah isterinya sendiri. Seorang perempuan juga berpotensi untuk memimpin masyarakat apabila ia memenuhi syarat-syarat yang diperlukan karena perempuan (nyai) juga memiliki potensi jiwa kepemimpinan di masyarakat.

Salah satu manfaat kepemimpinan seorang perempuan ialah; Menghapus cita buruk Islam menyangkut marginalisasi dan subordinasi seorang perempuan, dan menunjukkan bahwa perempuan Islam mampu berkarya dan berkontribusi secara adil salah satu kepemimpinan perempuan di sebuah pesantren yang menginspirasi ialah Nyai Umi Waheeda.

Umi Waheeda lahir di Singapura pada tanggal 14 Januari 1968 M, dari pasangan ibu Safinah binti Abdurrahman dan Bapak Abdurrahman bin Adnan. Beliau merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Sejak dini hidup Ummi dihiasi dengan serentetan prestasi diberbagai bidang kejuaraan.

Setelah menghabiskan masa remaja di Singapura, ummi memutuskan untuk menuntut ilmu dan nyantri di Indonesia, tepatnya di Darul Ulum International School di Surabaya dan berguru bersama As-Syekh Habib Saggaf dan memutuskan menikah dengan Abah pada tanggal 5 Mei 1988.

Kemudian Umi menetap di Indonesia mendampingi perjuangan Abah dalam berdakwah. Bahasa yang digunakan umi sehari-hari ialah Inggris, Indonesia, dan Melayu. Saat ini Dr. Hj. Umi Waheeda, S.Psi., M.Si selain sebagai pimpinan pesantren, sosial intrepeuneur, pendakwah, dan motivator dan mengurus pessantrennya.

Pada tahun 1998 di Masa Orde Baru, Indonesia mengalami krisis moneter luar biasa. Banyak para remaja putus sekolah akibat situasi ekonomi yang tidak bersahabat. Kenyataan ini membuat Abah dan Ummi hijrah ke Parung Kabupaten Bogor, Jawa Barat  untuk merintis sebuah lembaga pendidikan bebas biaya. Lembaga tersebut saat ini dikenal dengan nama Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman. Pada tahun 2001 Ummi memutuskan untuk berpindah kewarganegaraan menjadi warga Negara Indonesia agar lebih fokus dalam merintis lembaga tersebut.

Yayasan Al-Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School didirikan oleh Abah (Habib Saggaf bin Mahdi bin Syekh Abi Bakar bin Salim) dan istrinya umi Waheeda. Santri difasilitasi pembelajaran keterampilan khusus seperti komputer, menjahit, teknisi, bahasa asing, dan sebagainya dengan mengedepankan pendidikan entrepreneurship santri dengan mendirikan koperasi yang membawahi berbagai macam usaha seperti roti, air kemasan, tahu, tempe, susu kedelai, pupuk organik, percetakan, studi, daur ulang sampah, dan sebagainya.

Secara pratikal, kegiatan pendidikan dilangsungkan dengan jaminan bebas biaya hingga Januari 2011 telah mencapai 23.000 santri. Pembebasan biayapun tidak terbatas hanya kebutuhan pendidikan, namun kebutuhan konsumsi, asrama, dan dibina oleh 500 staff pengajar. Hingga tahun 2012, yayasan pesantren ini memiliki beberapa properti seperti; sarana ibadah, sarana pendidikan, tempat tinggal, olahraga, sarana MCK, lahan perikanan, lahan pertanian dan semuanya berstatus wakaf. Abah merupakan tokoh sentral yang sangat inspiratif dengan menemukan konsep pendidikan yang dinamis dan relevan dengan zaman.

Lambat laun nama Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman mulai populer dengan pesantren yang seluruh biaya pendidikan, pengobatan, makan-minum serta sarana dan pra-sarana secara cuma-cuma alias gratis. Pada tanggal 12 November 2010 Umi mendapatkan cobaan berat dengan berpulangnya Abah Saggaf, Suami tercinta, ke rahmatullah. Sebelum wafat, Abah berpesan, “Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman harus tetap gratis sampai kiamat”.

Pesantren ini masih sangat berpegang teguh pada nilai-nilai Islami dan kesederhanaan yang propsional yaitu “al-muhafadzah ‘ala qadim as-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah” yaitu tetap memegang tradisi lama yang positif dan mengimbangi dengan mengambil hal-hal baru yang positif pula. Sehingga dinamika sekaligus problematika yang muncul kemudian dapat seirama dengan watak asli kultur pesantren yang khas.

Dalam youtubenya Coach Yudi Candra https://www.youtube.com/watch?v=IC8_SyuOvvg umi menjelaskan pada saat itu banyak anak perempuan bekerja prostitusi dan dikawinkan diusia muda dan 16 tahun menjadi janda sehingga melupakan pendidikan. Mereka menganggap biaya pendidikan mahal dan tidak menyanggupi itu.

Semua aset Abah diolah demi makan dan membiayai santri dan sampai kiamat harus dimanfaatkan untuk waqaf. Abah meninggalkan 25 unit usaha, dan Umi kemudian mengolahnya menjadi 59 unit, diantaranya terdiri; 200 hektar sawah, tambang batubara, kebun, dan tambak untuk membiayai 15.000 santri secara gratis baik dari kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, dan makan santri secara gratis.

Pendidikan dimulai dari PIAUD hingga S1. Bahkan beberapa santri dibayai lagi untuk melanjutkan sekolah S2 bahkan S3. Perharinya, ummi harus menghabiskan 7 Ton beras perhari untuk santri makan. Almarhum Abah berpesan untuk isterinya bahwa apabila kamu mengejar akhirat, maka dunia akan mengejarmu.

Kebutuhan yang diperlukan santri, mereka memproduksinya sendiri seperti gamis, mukena, kerudung, peci mereka memiliki bisnis sendiri. Air mineral kemasan, sandal jepit, dan sebagainya. Anak-anak yang jauh dari orang tuanya, tidak ada keluarganya sehingga terbengkalai dan tidak bisa membeli buku atau kitab ummi akan memberikan uang saku 200 ribu perbulannya kepada anak-anak yang tidak ada uang atau keluarga.

Dari Nurul Iman, oleh Nurul Iman dan untuk dunia karena hasil produksi mereka beberapa sudah di ekspor ke luar negeri. Ummi Waheeda membayar seorang CEO untuk membantu ummi dalam mengatur keuangan dan usaha di Pesantren. Umi menjelaskan beliau mendidik anak-anak santri di Nurul Iman dengan Fathanah cerdas, inovatif, dan kreatif. Amanah, siddiq, Tabligh dengan menjunjung tinggi sebuah intergritas dan kejujuran bersikap dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.

Pondok pesantren nurul Iman memiliki channel Youtube yang dapat diakses https://www.youtube.com/@alashriyyahnuruliman1998 telah memiliki 43,2 Subscriber banyak menampilkan karya-karya santri, kreatifitas dan kegiatan para santri. Selain itu, Umi waheeda juga memiliki Instagram @umiwaheeda.nuruliman dengan pengikut sebanyak 11,9 ribu follower dan akun Instagram Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman dengan nama @al-ashriyyahnuruliman dengan memiliki 21,2 ribu follower.

Begitu berat amanat yang Umi emban, namun itu semua membuahkan hasil dan telah menorehkan keberhasilan luar biasa. Pesantren tersebut telah menerima predikat penghargaan sebagai ‘Pondok tauladan di seluruh Indonesia’.

Keberhasilan Ummi menjadi pemimpin sebuah pesantren menandakan bahwa seorang perempuan dapat menjadi pemimpin yang sukses. Sehingga memperlihatkan bahwa seoranag perempuan teruslah mempunyai semangat untuk belajar dan terus berkembang menjadi lebih baik.

*Artikel ini merupakan hasil kerja sama Harakah.ID dengan Rumah KitaB dalam program Investing in Women untuk mendukung Muslimah bekerja.



Sumber Artikel KLIK DISINI