loading…

Saya tidak setuju bahwa penganjur dosa asal akan rela meletakkan Tuhan di dalam posisi yang demikian. Ilustrasi: Ist

Berikut ini adalah dialog Prof Dr Wilson H. Guertin dan Imam Muhammad Jawad Chirri yang dikutip dari buku yang diterjemahkan HM Ridho Umar Baridwan, SH berjudul “Dialog tentang Islam dan Kristen” (Alma’arif, 1981).

Imam Mohammad Jawad Chirri adalah seorang ulama dan dosen , kelahiran Lebanon . Beliau direktur dan Ketua Kerohanian di pusat Islam di Detroit, Amerika . Sedangkan Prof Dr Wilson H. Guertin adalah Ilmuwan terkemuka dalam ilmu jiwa (psychology).

Berikut petikan dialog tersebut:

Prof Wilson: Empat Injil jelas menyatakan bahwa Yesus meninggal disalib. Bagaimana kita dapat menyesuaikan (mendamaikan) pernyataan ini dengan pernyataan Qur’an yang menolak dengan tegas kematian Yesus disalib?

Imam Chirri: Ada jalan untuk menyesuaikan pernyataan Qur’an dengan pernyataan Injil-Injil:

Perbedaan antara dua pernyataan dapat dibedakan antara munculnya dan kenyataannya. Tidak boleh tidak bahwa beberapa kejadian yang terjadi pada saat apa yang nampaknya menjadi penyaliban Yesus dan kematiannya disalib. Kehidupan Yesus penuh dengan keajaiban-keajaiban, dan hal demikian dapat terjadi pula pada kematiannya.

Itu dapat terjadi bahwa orang lain (seperti Yudas, orang yang mengkhianatinya), disamakan dengan dia, dan dia bukan Yesus, meninggal pada salib.

Ada jalan lain untuk menyesuaikan kedua pernyataan tersebut tanpa berlindung di bawah dugaan setiap kejadian yang ajaib; mengira bahwa Yesus diletakkan di salib, dan bahwa dia pingsan, padahal dia masih hidup.

Pengandaian ini tidak tanpa bukti dari Injil-injil: Injil-Injil mengatakan bahwa Yesus tidak berada sangat lama pada salib. Dia diturunkan cepat-cepat, tanpa merusak (melukai) kakinya, padahal biasanya penyaliban melukai (merusak) kaki.

Orang-orang Yahudi menyiapkan untuk merayakan perayaannya. Mereka tidak ingin Yesus berada di salib sampai hari berikutnya, Sabtu, di mana mereka diwajibkan tidak melakukan pekerjaan seperti penguburan. Karena tidak berada lama di tiang salib, dia masih dapat hidup.

Injil-injil menyatakan juga bahwa setelah Yesus tampak meninggal, seseorang memukul tubuhnya dengan tombak, dan darah memancar keluar dari tubuhnya. Kita tahu bahwa darah tidak mengalir pada tubuh yang telah meninggal. Ini menunjukkan bahwa Yesus masih hidup.

Injil-injil mengatakan bahwa Yesus diletakkan di kuburannya, dan batu yang berat diletakkan di atas kuburannya, dan pada hari Minggu, tubuhnya hilang dan batu itu telah dipindahkan dari lubang kubur tersebut.

Kita menduga bahwa beberapa dari teman-teman Yesus memindahkan batu itu dan menolongnya.

Apabila Yesus dibangkitkan secara ajaib, maka tidak akan memerlukan memindahkan batu itu. Tuhan dapat mengangkatnya dari kuburan tanpa memindahkan batu tsb. Pemindahan batu itu tampaknya dilakukan oleh manusia, dan bukan Tuhan.

Selanjutnya, Injil menerangkan bahwa Yesus menampakkan dirinya beberapa kali pada teman-temannya setelah kejadian penyaliban. Semua penampilannya tampaknya terjadi secara rahasia, dan bahwa Yesus tidak ingin menampakkan diri secara terang-terangan. Apabila dia dibangkitkan secara ajaib, dia tidak akan menyembunyikan diri dari musuh-musuhnya.

Kerahasiaan dari penampilannya menunjukkan bahwa dia masih hidup sebelumnya, dan hidupnya tidak diputuskan dengan kematian yang singkat, dan bahwa dia masih takut pengejaran musuh-musuhnya.

Organisasi internasional “Holy Shroud” baru-baru ini memutuskan bahwa noda darah pada kain kafan Yesus menunjukkan bahwa Yesus masih hidup ketika dia diturunkan dari salib, dengan perkataan lain, tidak akan ada darah yang tampak pada kain yang ditutupkan ke badannya setelah itu.



Sumber Artikel KLIK DISINI