loading…

terkadang seorang muslim dituntut untuk meninggalkan sesuatu karena Allah subhanahu wata’ala. Pada saat itulah, ada salah satu kaidah penting dalam kehidupan seorang muslim yang perlu untuk kita yakini bersama. Foto ilustrasi/ist

Terkadang seorang muslim dituntut untuk meninggalkan sesuatu karena Allah subhanahu wata’ala. Pada saat itulah, ada salah satu kaidah penting dalam kehidupan seorang muslim yang perlu untuk kita yakini bersama.

Sebuah hadis menjelaskan:

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ إِلَّا بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا ‌هُوَ ‌خَيْرٌ ‌لَكَ ‌مِنْهُ

“Tidaklah kamu meninggalkan sesuatu karena Allah, melainkan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik untukmu.” (HR Ahmad no 23075)

Makna kaidah ataupun hadis tersebut, dijelaskan Ustaz Amir Sahidin MAg, Pengajar PPTQ Ibnu Mas’ud, Purbalingga sebagai berikut, barang siapa meninggalkan sesuatu semata-mata karena mengharap ridha Allah —bukan karena takut penguasa, malu kepada manusia, ketidakmampuan untuk melakukan, dan lain sebagainya—maka Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik dari hal itu.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menerangkan dalam kitabnya Al-Fawaid halaman 107 bahwa ganti yang Allah berikan meliputi berbagai macam ganti. Ganti yang paling besar adalah keakraban dengan Allah, kecintaan-Nya, ketenangan hati dengan-Nya, kekuatan dari-Nya, kesemangatan-Nya, kegembiraan-Nya, dan keridhaan Rabb Yang Mahamulia.

Berikut beberapa kisah yang menjelaskan tentang besarnya makna ‘meninggalkan sesuatu karena Allah” ini.

1. Kisah Nabi Sulaiman Alaihissalam

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam merupakan seorang nabi yang sangat mencintai jihad di jalan Allah, sehingga ia pun memiliki banyak kuda yang amat ia cintai. Suatu ketika Nabi Sulaiman tersibukkan dengan kuda-kuta tersebut hingga terlewat waktu Salat Ashar, sedangkan ia belum salat.

Nabi Sulaiman pun segera melaksanakannya, kemudian kembali untuk menyembelih kuda-kuda tersebut karena cintanya kepada Allah.

Maka Allah menggantikan yang lebih baik dari kuda-kuda tersebut, yaitu angin yang berhembus ke arah dan tempat mana pun ia inginkan (Ath-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Al-Qur’an, vol. 21, hlm. 202).

2. Kisah Nabi Yusuf alaihissalam

Nabi Yusuf ‘alaihissalam merupakan nabi yang menghadapi godaan wanita bangsawan dan cantik, namun ia meninggalkan wanita tersebut karena Allah semata.

Nabi Yusuf juga lebih memilih dipenjara karena mencari ridha Allah daripada melakukan perbuatan keji tersebut.

Maka Allah pun menggantikannya dengan yang lebih baik dari hal itu, yaitu ia dijadikan sebagai perdana menteri kerajaan.

3. Kisah Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan Nabi yang teramat mulia. Beliau pernah mendapat berbagai tawaran, baik berupa harta, kedudukan, maupun wanita oleh orang-orang musyrik Quraisy untuk meninggalkan dakwahnya.

Namun, Nabi Muhammad dengan tegas menolak tawaran tersebut dan memilih bersabar dalam jalan dakwah untuk mencari ridha Allah semata.

Maka Allah pun menjadikan Nabi Muhammad sebagai Nabi yang paling mulia dari para nabi sebelumnya.

4. Kisah para muhajirin yang berhijrah menuju Madinah

Tatkala para sahabat Nabi dari kalangan Muhajirin meninggalkan rumah-rumah dan tanah air yang mereka cintai menuju Madinah, mereka kemudian tidak menjadi para sahabat yang miskin dan terlunta-lunta, melainkan Allah ganti perjuangan mereka dengan penaklukan dan kekuasaan di muka bumi yang mencapai belahan timur maupun barat.

Terkait hal ini, Allah berfirman dalam Surat An-Nur: 55,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai.”

5.Kisah Suhaib Ar-Rumi

Suhaib Ar-Rumi radhiyallahu ‘anhu merupakan sahabat Nabi dari Romawi yang tinggal di Makkah. Ketika ia memenuhi seruan berhijrah menuju Madinah, ia ditahan oleh orang-orang musyrik Makkah, maka Suhaib pun menawarkan seluruh harta yang ditinggalkan untuk mereka agar membiarkannya berhijrah ke Madinah.

Untuk itulah Allah ganti perjuangnya dengan keuntungan yang sangat besar, berupa pujian dari Rasulullah dan turunnya firman Allah dalam Surat Al-Baqarah: 207,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

Wallahu A’lam

(wid)



Sumber Artikel KLIK DISINI