loading…

Pada 13 Januari akan datang bulan Rajab. Bagaimana seorang menyikapi datangnya bulan haram ini? Ilustrasi: Ist

Syaikh Abu ‘Abdullah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Sulaiman bin Abdur Rahman Al-‘Utsaimin At-Tamimi atau Syaikh al-‘Utsaimîn berpesan, “Pujilah Rabb kalian yang telah memanjangkan usia kalian, sehingga kalian mendapatkan bulan Rajab ”.

Selain itu, dalam “Adh-Dhiyâ al-Lâmi minal Khuthabil Jawâmi’“, beliau mengingatkan sikap seorang Muslim yang mengetahui keagungan bulan Rajab adalah mengagungkannya dengan taat kepada Allah dan bertobat kepada Allah Taala dari dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan.

Sebab, kesempatan yang baik dan peluang emas ini akan benar-benar menjadi kenikmatan bagi seorang hamba bagi dunianya dan akhiratnya, bila mengisinya untuk taat kepada Allâh Azza wa Jalla.

Seseorang seyogyanya mengambil pelajaran dari orang-orang terdekat yang ada di sekitarnya yang telah meninggal, baik itu karib-kerabat, kenalan maupun tetangga.

Mereka telah berpisah dari orang-orang tercinta mereka dan kawan-kawan baik mereka. Mereka telah meninggalkan dunia dan seisinya menuju alam kubur. Mereka telah berpindah dari alam tempat beramal menuju alam pertama untuk pembalasan amal. Kebaikan dan keburukanlah yang menemani mereka.

“Maka, ketika kesempatan emas untuk beramal dalam waktu yang istimewa, siapa pun hendaknya memasang niat dan badan untuk menyambutnya dengan baik, dengan semangat beramal salat dalam waktu tersebut,” ujarnya.

Bulan Haram

Allâh SWT menjadikan bulan-bulan dalam setahun berjumlah sebanyak 12 bulan. Dua belas bulan itu adalah Muharram, Shafar Rabi’ul Awwal, Rabi Tsâni, Jumadal Ula, Jumadal Akhir, Rajab, Sya’bân, Ramadhan, Syawwal, dan Dzul Qa’dah serta Dzulhijjah.

Allâh telah menentukan musim-musim kebaikan dan limpahan-limpahan barakah dari bulan-bulan tersebut, di antaranya dengan memilih empat bulan haram (suci) dari dua belas yang ada dalam setahun. Bulan-bulan itu adalah Rajab, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram.

Satu bulan menyendiri, yaitu bulan Rajab, datang sesudah bulan Jumadil Akhir dan sebelum bulan Syabân. Dan tiga bulan berurutan, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram.

Allâh SWT berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allâh ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allâh di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. [QS At-Taubah/9:36]

Dalam 4 bulan haram ini, Ulama mengatakan bahwa ganjaran amal-amal kebaikan akan dilipatkan bagi orang-orang yang beramal saleh. Sebaliknya, hukuman dan akan diberatkan pada pelaku kejahatan dan kezaliman di dalamnya.

Pada 13 Januari akan datang bulan Rajab. Bagaimana seorang menyikapi datangnya bulan haram ini?

Pertama-tama, ia mensyukuri nikmat besar tersebut, sebab bersyukur adalah kaedah umum untuk merespons sebuah kenikmatan dari Allâh taala, apa pun nikmat tersebut, baik nikmat duniawi, apalagi kenikmatan yang berhubungan dengan agama, kesempatan beramal saleh dan memperbaiki diri.

(mhy)



Sumber Artikel KLIK DISINI